Minggu, 07 September 2014

Bani Umayyah

Assalamu'alaikum Wr. Wb 

Baik, pada kesempatan kali ini saya akan memposting tulisan berupa sejarah islam, yakni pada masa bani umayyah, semoga dengan tulisan ini dapat menambah pengetahuan kita dalam mengetahui sejarah perjuangan islam sesudah masa nabi Muhammad SAW. 

  BAB I PENDAHULUAN 

 Hampir semua sejarawan membagi Dinasti Bani Umayah menjadi dua, yaitupertama, Dinasti Bani Umayah yang dirintis dan didirikan oleh Muawiyah bin Abi Sufyan yang berpusat di Damaskus (Siria). Fase ini berlangsung sekitar satu abad dan mengubah sistem pemerintahan dari sistem khilafah pada sistem mamlakat (kerajaan atau monarki) dan kedua, Dinasti Bani Umayah di Andalusia (Siberia) yang pada awalnya merupakan wilayah taklukan Umayah di bawah pimpinan seorang gubernur pada zaman Walid bin Abdul Al-Malik, kemudian diubah menjadi kerajaan terpisah dari kekuasaan Dinasti Bani Abbas setelah berhasil menaklukkan Dinasti Bani Umayah di Damaskus. Di dalam makalah ini akan membahas lebih rinci mengenai Dinasti Bani Umayah mulai dari latar belakang berdirinya Dinasti Bani Umayah, perkembangan dan kemajuan, sistem pemerintahan, hingga faktor-faktor kemunduran Dinasti Bani Umayah. 

  BAB II PEMBAHASAN 

A. Latar Belakang Berdirinya Dinasti Bani Umayah
 Nama Dinasti Bani Umayah diambil dari Umayah bin Abd Al-Syam, kakek Abu Sufyan. Umayah segenerasi dengan Abdul Muthalib, kakek Nabi Muhammad Saw dan Ali bin Abi Thalib. Dengan demikian, Ali bin Abi Thalib segenerasi pula dengan Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Ali bin Abi Thalib berasal dari keturunan Bani Hasyim sedangkan Mu’awiyah berasal dari keturunan Bani Umayah. Kedua keturunan ini merupakan orang-orang yang berpengaruh dalam suku Quraisy.
 Setting cikal bakal dinasti ini bermula ketika Ali bin Abi Thalib dibaiat sebagai khalifah menggantikan kedudukan khalifah Usman bin Affan, salah satu kebijakan awal dan Ali adalah pengambil alihan tanah-tanah dan kekayaan negara yang telah dibagi-bagikan oleh Usman kepada keluarganya dan memecat gubemur-gubemur dan pejabat pemerintahan yang diangkat Usman untuk meletakkan jabatannya, namun Muawiyyah Gubernur Syiria menolak pemecatan itu sekaligus tidak mau membaiat Ali sebagai khalifah dan bahkan membentuk kelompok yang kuat dan menolak untuk memenuhi perintah-perintah Ali. Dia berusaha membalas kematian khalifah Usman, atau kalau tidak dia akan menyerang kedudukan khalifah bersama-sama dengan tentara Syiria. Desakan Muawiyyah akhirnya tertumpah dalamperang Shiffin. 

 Dalam pertempuran itu hampir-hampir pasukan Muawiyyah dikalahkan pasukan Ali, tapi berkat siasat penasehat Muawiyyah yaitu Amr bin 'Ash, agar pasukannya mengangkat mushaf-mushaf Al Qur'an di ujung lembing mereka, pertanda seruan untuk damai dan melakukan perdamaian (tahkim)dengan pihak Ali dengan strategi politik yang sangat menguntungkan Mu’awiyah.

 Bukan saja perang itu berakhir dengan Tahkim Shiffin yang tidak menguntungkan Ali, tapi akibat itu pula kubu Ali sendiri menjadi terpecah dua yaitu yang tetap setia kepada Ali disebut Syiah dan yang keluar disebut Khawarij. Sejak peristiwa itu, Ali tidak lagi menggerakkan pasukannya untuk menundukkan Muawiyyah tapi menggempur habis orang-orang Khawarij, yang terakhir terjadi peristiwa Nahrawan pada 09 Shafar 38 H, dimana dari 1800 orang Khawarij hanya 8 orang yang selamat jiwanya sehingga dari delapan orang itu menyebar ke Amman, Kannan, Yaman, Sajisman dan ke Jazirah Arab. 

 Jatuhnya Ali dan naiknya Muawiyah juga disebabkan keberhasilan pihak khawarij (kelompok yang membangkang/ keluar dari kelompok Ali) membunuh khalifah Ali, meskipun kemudian tampuk kekuasaan dipegang oleh putranya Hasan, namun tanpa dukungan yang kuat dan kondisi politik yang kacau akhirnya kepemimpinannya pun hanya bertahan sampai beberapa bulan. Pada akhirnya Hasan menyerahkan kepemimpinan kepada Muawiyah, namun dengan perjanjian bahwa pemmilihan kepemimpinan sesudahnya adalah diserahkan kepada umat Islam. Perjanjian tersebut dibuat pada tahun 661 M / 41 H dan dikenal dengan am jama’ah karena perjanjian ini mempersatukan ummat Islam menjadi satu kepemimpinan politik.

 Setelah terjadi kesepakatan antara Hasan bin Ali dengan Mu’awiyah bin Abi Sufyan pada tahun 41 H/ 661 M, maka secara resmi Mu’awiyah diangkat menjadi khalifah oleh umat Islam secara umum. Pusat pemerintahan Islam dipindahkan Mu’awiyah dari Madinah ke Damaskus. Pemerintahan Mu’awiyah berubah bentuk dari theo-demokrasi menjadi monarchi(kerajaan/dinasti) yang berbasiskan Islam, ini terjadi sejak dia mengangkat anaknya Yazid sebagai putra mahkota. Sejak itulah sistem pemerintahan mamakai sistem monarchi hingga pada khalifah terakhir Marwan bin Muhammad, yang tewas dalam pertempuran melawan pasukan Abul Abbas As-Safah dari Bani Abbas pada tahun 750 M. Dengan tewasnya Marwan bin Muhammad berakhir Dinasti Bani Umayah dan digantikan oleh Dinasti Bani Abbas. 

 Pola pemerintahan menjadi kerajaan ini terjadi karena pada masa itu umat Islam telah bersentuhan dengan peradaban Persia dan Bizantium. Oleh karena itu, Mu’awiyah juga bermaksud meniru cara suksesnya kepemimpinan yang ada di Persia dan Bizantium yaitu Kerajaan tetapi gelar pemimpin tetap menggunakan Khalifah dengan makna konotatif yang diperbaharui. 

 B. Perkembangan Dinasti Bani Umayyah 

Meskipun ummat Islam telah bersatu dalam satu kepemimpinan, kekhalifahan Muawiyah yang diperoleh melalui kekerasan, diplomasi dan tipu daya, dan tidak dengan pemilihan atau suara terbanyak telah melahirkan golongan-golongan oposisi yang pada akhirnya nanti akan menjadi sebab kehancuran Dinasti tersebut.

 Adik laki-laki al-Hasan, Husein yang pada masa pemerintahan Muawiyah hidup tenang di Madinah tidak mau mengakui pengganti Muawiyah yaitu Yazid. Ia pergi ke Kuffah untuk memenuhi seruan penduduk Irak yang akan menobatkannya sebagai khalifah pada tahun 680 M. Namun pada 10 Muharram 61 H (10 oktober 680) seorang jenderal terkenal dengan nama Sa’ad bin Abi Waqqas membawa 4000 pasukan mengepung al-Husein yang hanya didampingi 200 orang. Al-Hasan pun tidak selamat dalam pembantaian tersebut.

 Adapun Khalifah-khalifah Bani Umayah adalah sebagai berikut:
 1. Muawiyah I bin Abu Sufyan, 41-61 H / 661-680 M
 2. Yazid I bin Muawiyah, 61-64 H / 680-683 M
 3. Muawiyah II bin Yazid, 64-65 H / 683-684 M 
4. Marwan I bin al-Hakam, 65-66 H / 684-685 M 
5. Abdul-Malik bin Marwan, 66-86 H / 685-705 M 
6. Al-Walid I bin Abdul-Malik, 86-97 H / 705-715 M 
7. Sulaiman bin Abdul-Malik, 97-99 H / 715-717 M 
8. Umar II bin Abdul-Aziz, 99-102 H / 717-720 M 
9. Yazid II bin Abdul-Malik, 102-106 H / 720-724 M 
10. Hisyam bin Abdul-Malik, 106-126 H / 724-743 M 
11. Al-Walid II bin Yazid II, 126-127 H / 743-744 M
 12. Yazid III bin al-Walid, 127 H / 744 M
 13. Ibrahim bin al-Walid, 127 H / 744 M
 14. Marwan II bin Muhammad, 127-133 H / 744-750 M

 Adapun khalifah-khalifah besar Bani Umayah adalah Muawiyah I bin Abu Sufyan, Abdul-Malik bin Marwan, Al-Walid I bin Abdul-Malik, Umar II bin Abdul-Aziz, Hisyam bin Abdul-Malik. Puncak kejayaan Dinasti Bani Umayah ini pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz, setelah itu merupakan masa kemundurannya. 

 C. Perkembangan dan Kemajuan Dinasti Bani Umayah

 Terbentuknya Dinasti Umayyah merupakan gambaran awal bahwa umat Islam ketika itu telah kembali mendapatkan identitasnya sebagai negara yang berdaulat, juga merupakan fase ketiga kekuasaan Islam yang berlangsung selama lebih kurang satu abad (661 - 750 M). Perubahan yang dilakukan, tidak hanya sistem kekuasaan Islam dari masa sebelumnya (masa Nabi dan Khulafaurrasyidin) tapi juga perubahan-perubahan lain di bidang sosial politik, keagamaan, intelektual dan peradaban.

 1. Dinamika Politik
 Dalam awal perkembangannya, dinasti ini sangat kental diwarnai nuansa politiknya yaitu dengan memindahkan ibukota kekuasaan Islam dari Madinah ke Damaskus. Kebijakan itu dimaksudkan tidak hanya untuk kuatnya eksistensi dinasti yang telah mendapat legitimasi politik dari masyarakat Syiria, namun lebih dari itu adalah untuk pengamanan dalam negeri yang sering mendapat serangan-serangan dari rival politiknya.

 a. Sistem Penggantian kepala Negara bersifat Monarchi.Pemindahan sistem kekuasaan juga dilakukan Muawiyyah, sebagai bentuk pengingkaran demokrasi yang dibangun masa Nabi dan Khalifah yang empat. dari kekhalifahan yang berdasarkan pemilihan atau musyawarah menjadi kerajaan turun menurun (monarch/ heridetis).

 b. Sistem Sosial (Arab dan Mawali). Pada masa Nabi dan khalifah yang empat, keanggotaan masyarakat secara umum dalam segala hal hanya dibatasi berdasarkan keagamaan, sehingga masyarakat secara garis besar terdiri muslim dan non muslim, dan dalam memperlakukan orang Islam sebagai mayoritas dapat dibedakan menurut dua kriteria, pertama yang menjurus kepada hal-hal yang praktis dan seringkali diterapkan pada kelompok, dan kreteria kedua berupa tindakan pengabdian kepada masyarakat yang sifatnya tebih personal. Sebagai tambahan atas kedua kriteria itu, pada Dinasti Umayyah syarat keanggotaan masyarakat harus berasal dari orang Arab, sedangkan orang non Arab setelah menjadi Muslim harus mau menjadi pendukung (mawali)bangsa Arab. Dengan demikian masyarakt muslim pada masa Dinasti Umayyah terdiri dari dua kelompok, yaitu Arab dan Mawali.

 Dikalangan kaum Mawali lahirlah satu gerakan rahasia yang terkenal dengan nama Asy-Syu’ubiyyah yang bertujuan melawan paham yang membedakan derajat kaum Muslimin yang sebetulnya mereka bersaudara. Dan yang membedakan hanyalah ketaqwaan mereka serta banyak kaum Mawali yang bersikap membantu gerakan Bani Hasyim turunan Alawiyah, bahkan juga memihak kaum Khawarij.

 c. Kebijaksanaan dan Orientasi Politik. Selama lebih kurang 90 tahun Dinasti Bani Umayah ini memerintah, banyak terjadi kebijaksanaan politik yang dilakukan pada masa ini, seperti:
 1) Pemisahan Kekuasaan. Terjadi dikotomi antara kekuasaan agama (spiritual power) di tunjuklah qadhi/ hakim dan kekuasaan politik (temporal power). Dapatlah dipahami bahwa Mu’awiyah bukanlah seorang yang ahli dalam keagamaan sehingga diserahkan kepada para Ulama.

 2) Pembagian wilayah. Khalifah bin Khattab terdapat 8 Provinsi, maka pada masa Bani Umayah menjadi 10 Provinsi Wilayah kekuasaan terbagi dalam 10 provinsi, yaitu: 
 • Syiria dan Palestina;
 • Kuffah dan Irak;
 • Basrah, Persia, Sijistan, Khurasan, Bahrain, Oman, Najd dan Yamamah;
 • Arenia;
 • Hijaz;
 • Karman dan India;
 • Egypt (Mesir);
 • Ifriqiyah (Afrika Utara);
 • Yaman dan Arab selatan, dan
 • Andalusia.

 3) Bidang Administrasi Pemerintahan. Dibidang pemerintahan, dinasti membentuk semacam Dewan Sekretaris Negara (Diwan al Kitabah) yang terdiri dari lima orang sekretaris yaitu : Katib ar Rasail, Katib al Kharraj, Katib al Jund, Katib asy Syurtah dan katib al Qadi.

 Untuk mengurusi administrasi pemerintahan daerah di angkat seorang Amir al Umara (Gubemur Jenderal) yang membawahi beberapa amir sebagai penguasa satu wilayah.

 Pada masa Abdul Malik bin Marwan, jalannya pemerintahan ditentukan, oleh empat departemen pokok (diwan) yaitu :
 • Dewan Rasail (istilah sekarang disebut sekretaris jenderal). Diwan ini berfungsi untuk mengurus surat-surat negara yang ditujukan kepada para gubernur atau menerima surat-surat dari mereka. Ada dua macam sekretariat. Pertama, sekretariat negara (dipusat) yang menggunakan bahasa arab sebagai pengantar. Kedua, sekretariat Provinsi yang menggunakan bahasa Yunani (Greek) dan Parsi sebagai bahasa pengantarnya kemudian menjadi bahasa arab sebagai pengantar ini terjadi setelah bahasa arab menjadi bahasa resmi di seluruh negara Islam.
 • Diwan al-Kharaj. Bertugas untuk mengurus masalah pajak, yang dikepalai oleh Shahib al-Kharraj diangkat oleh khalifah dan bertanggung jawab langsung kepada khalifah.
 • Diwan al-Barid. Merupakan badan intelijen negara yang berfungsi sebagai penyampai berita-berita rahasia daerah kepada pemerintah pusat. Pada masa pemerintahan Abdul Malik berkembang menjadi Departemen Pos khusus urusan pemerintah.
 • Diwan al-Khatam (departemen pencatatan). Setiap peraturan yang dikeluarkan oleh khalifah harus disalin di dalam suatu register, kemudian yang asli harus di segel dan dikirim ke alamat yang dituju. 

4) Politik Arabisasi. Dengan tatanan masyarakat yang homogin tersebut, menimbulkan ambisi penguasa dinasti ini untuk mempersatukan masyarakat dengan politik Arabisme, yaitu membangun bangsa Arab yang besar dan sekaligus menjadi kaum muslimin. Usaha-usaha ke arah itu antara lain mewajibkan untuk membuat akte kelahiran masyarakat Arab bagi anak-anak yang lahir di daerah-daerah penaklukan, kewajiban berbahasa Arab bagi penduduk daerah Islam dan bahkan adat istiadat serta sikap hidup mereka diharuskan menjadi Arab. Pada masa Bani Umayah (sejak Khalifah Abd Malik bin Marwan), berkembang istilah Arabisasi artinya usaha-usaha pengaraban oleh Bani Umayah di wilayah-wilayah yang dikuasai Islam. Bidang ini dilakukan Bani Umayah antara lain dalam pengangkatan kepala-kepala wilayah dari bangsa arab untuk ditempatkan pada wilayah-wilayah yang dikuasai. Disamping itu ia mengajarkan bahasa arab diseluruh wilayah Islam. Penerjemahan buku-buku berbahasa asing ke dalam bahasa arab.

 5) Kebijakan politik Dinasti Umayyah lainnya adalah upaya-upaya perluasan wilayah kekuasaan. Pada zaman Muawiyyah, Uqbah bin Nafi' berhasil menguasai Tunis yang kemudian didirikan kota Qairawan sebagai pusat kebudayaan Islam pada tahun 760 M. Di sebelah, Muawiyyah memperoleh daerah Khurasan sampai ke Lahore di Pakistan. Di sebelah barat dan utara diarahkan ke Bizantium dan dapat menundukkan Rhodes dan pulau-pulau lain di Yunani. Pada tahun 48 H, Muawiyyah merencanakan penyerangan laut dan darat terhadap Konstantinopel, tetapi gagal setelah kehilangan pasukan dan kapal perang mereka.

 Zaman Walid I, dengan dibantu tiga orang pimpinan pasukan terkemuka sebagai penaduduk yaitu: Qutaybah Sbin Muslim, Muhammad bin al Qasim dan Musa bin Nashir, ekspansi ke barat dan ke mencapai keberhasilan. Ekspansi ke barat dilakukan oleh Musa bin Nashir, berhasil menundukkan Aljazair dan Maroko, kemudian ia mengangkat Tariq bin Ziyad sebagai wakilnya untuk memerintah di daerah itu dan melakukan perebutan kekuasaan dalam kerajaan Gotia Barat di Spanyol untuk ditaklukkan, akhirnya Toledo ibukota Spanyol jatuh ke tangan pasukan muslim menyusul kota Seville, Malaga, Elvira dan Cordoua yang kemudian menjadi ibukota Spanyol Islam (al Andalus).

 Setelah menaklukkan Spanyol, Musa bin Nashir ambil bagian ke Spanyol dan melanjutkan ekspansinya dengan merampas Carmona, Cadiz di sebelah tenggara dari Calica di sebelah barat laut. Dia memutuskan untuk meneruskan ekspansinya ke sebelah selatan Perancis, namun ada kekhaiwatiran dari Walid I atas pengaruh Musa bin Nashir yang mungkin akan memproklamirkan seluruh negara yang ditaklukkan, maka Walid 1 memerintahkan untuk mangakhiri ekspansinya ke Eropa dan memanggil Musa dan Tariq ke Damaskus.

 Di masa Abdul Malik, Qutaybah diangkat oleh al Hajjaj bin Yusuf, gubernur Khurasan, menjadi wakilnya pada tahun 86 H.Bersama pasukannya, Qutaybah dapat menundukkan Balkh, Bukhara, Khawarizm, Farghana dan Masarkand. Usaha ekspansinya ke Cina di urungkan, karena delegasinya disuruh kembali kepada pemimpinnya dengan saling tukar menukar cenderamata, Qutaybah menerima uang dan mencetak materai dengan bantuan pemuda kerajaan kemudian menjelajahi kekuasannya dan pulang ke Merv, ibukota Khurasan.

 Muhammad bin Qasim dipercaya oleh al Hajjaj untuk menundukkan India. Pada tahun 89 H, ia menuju ke Sind dan mengepung pelabuhan Deibul di muara sungai Indus, kemudian tempat itu diberi nama Mihram. la memperluas penaklukannya hingga ke Maltan sebelah selatan Punjab dan Brahmanabat.

 2. Dinamika Ekonomi
 Kemenangan-kemenangan yang diperoleh umat Islam secara luas itu, menjadikan orang-orang Arab bertempat tinggal di daerah penaklukan dan bahkan menjadi tuan-tuan tanah. Kepada pemilik tanah diwajibkan oleh Dinasti Umayyah untuk membayar pajak tanah, namun pajak kepala hanya berlaku kepada penduduk non muslim sehingga mengakibatkan banyaknya penduduk yang masuk Islam, akibatnya secara ekonomis penghasilan negara berkurang, namun demikian dengan keberhasilan Dinasti Umayyah menaklukkan Imperium Persia beserta wilayah kepunyaan Imperium Byzantium, sesungguhnya kemakmuran bagi Dinasti ini melimpah ruah yang mengalir untuk kas negara. Kebijakan Dinasti di bidang ekonomi lainnya adalah menjamin keadaan aman untuk laiu lintas darat dan laut, lalu lintas darat melalui jalan Sutera ke Tiongkok guna memperlancar perdagangan sutera, keramik, obat-obatan dan wewangian, sedangkan lalu lintas laut ke arah negeri-negeri belahan untuk mencari rempah-rempah, bumbu. kasturi, permata, logam mulia, gading dan bulu-buluan. Keadaan demikian membuat kota Basrah dan Aden di teluk Persi menjadi lalu lintas perdagangan dan pelabuhan dagang yang ramai, karena kapal-kapal dagang dibawah lindungan armada Islam yang menuju ke Syiria dan Mesir hampir tak pernah putus. Perkembangan perdagangan ini telah mendorong meningkatnya kemakmuran Dinasti Umayyah.

 Pada masa khalifah Abdul Malik, telah dirintis industri kerajinan tangan berupa tiraz (semacam bordiran) yakni cap resmi yang dicetak pada pakaian khalifah dan para pembesar pemerintahan, format tiraz bertuliskan lafaz "La Ilaaha Ilia Allah". Guna memperlancar produktifitas pakaian resmi kerajaan, maka Abdul Malik mendirikan pabrik-pabrik kain, dan setiap pabrik diawasi oleh Sahib at Tiraz yang bertujuan mengawasi tukang emas dan penjahit, menyelidiki hasil karya dan membayar gaji mereka.

 3. Dinamika Sosial
 Seperti yang suda di jelaskan sebelumnya, pada masa Dinasti Umayyah, bangsa Arab mendapatkan posisi terhormat daiam masyarakat. Pada umumnya, bangsa Arab merupakan tuan tanah hasil rampasan perang. Adanya dua kelompok masyarakat yang membangun Daulat Umayyah yakni bangsa Arab dan non-Arab, berpengaruh positif pada motivasi orang-orang non-Arab untuk memeluk agama Islam. Kebijakan ini juga berpengaruh pada perkembangan dan perluasan pemakaian bahasa Arab dengan cepat. 

Salah satu permasalahan yang pantas disebutkan pada masa pemerintahan Bani Umayyah adalah munculnya penolakan para sahabat terhadap sikap Mua'wiyah yang mengubah sistem sukses khalifah dari pemilihan terbuka menjadi kerajaan yang mewariskan tahta kepada keturunan raja.

 4. Intelektual dan Keagamaan
 Di zaman pemerintahan Abdul Malik terdapat banyak bahasa yang digunakan dalam administrasi, seperti bahasa Persia, Yunani dan Qibti, namun atas usaha Salih bin Abdur Rahman, sekretaris al Hajjaj, ia mencoba menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa administrasi dan bahasa resmi di seluruh negeri sehingga perhatian dan upaya penyempurnaan pengetahuan tentang bahasa Arab mendorong lahirnya ahli bahasa yaitu Sibawaihi dengan karya tulisnya al Kitab menjadi pegangan dalam soal tata bahasa Arab.

 Dalam daerah kekuasaannya terdapat kota-kota pusat kebudayaan yaitu Yunani Iskandariyah. Antiokia, Harran dan Yunde Sahpur yang semula dikembangkan oleh imuwan-ilmuwan Yahudi, Nasrani dan Zoroaster Khalifah Khalid bir'i Yazid bin Muawiyyah yang seorang orator dan berpikiran tajam berupaya menerjemahkan buku-buku tentang astronomi, kedokteran dan kimia.

 Khalifah Walid bin Abdul Malik memberikan perhatian kepada bimarstan, yaitu rumah sakit sebagai tempat berobat, perawatan orang sakit dan studi kedok-teran yang berada di Damaskus, sedangkan khalifah Umar bin Abdul Aziz menyuruh para ulama secara resmi untuk membukukan hadits-hadits Nabi, dan selain itu ia bersahabat dengan ibn Abjar, seorang dokter dan Iskandariah yang kemudian menjadi dokter pribadinya.

 Pengaruh lain dan ilmuwan kristen itu adalah penyusunan ilmu pengetahuan secara sistematis, selain itu berubah pula sistem hafalan dalam pengajaran kepada sistem tulisan menurut aturan-aturan ilmu pengetahuan yang berlaku. Pendukung dalam pengembangan ilmu adalah golongan non Arab dan telaahnya pun sudah meluas sehingga ada spesialisasi ilmu menjadi : ilmu pengetahuan bidang agama, bidang sejarah, bidang bahasa dan bidang filsafat.[36] Ilmuwan itu antara lain Sibawaihi, al Farisi, al Zujaj (ahli nahwu), al Zuhpy, Abu Zubair, Muhammad bin Muslim bin Idris dan Bukhari Musiim (ahli Hadits) dan Mujahid bin Jabbar (ahli tafsir).

 5. Tali Ikatan Persatuan Masyarakat (Politik dan Ekonomi)
 Ekspansi Islam yang berlangsung dari pertengahan abad ke tujuh sampai permulaan abad ke delapan, salah satu hasilnya ialah terintegrasinya daerah-daerah yang ditaklukkan itu dalam suatu kesatuan sosial politik yang disebut Dunia Islam. Selanjutnya dunia Islam itu merupakan suatu kawasan ekonomi yang terpadu dala suatu jaringan pasaran bersama. Wilayah inti meliputi daerah-dearah bekas kerajaan Persia, Imperium Bizantium di Suria dan Mesir serta daerah-daerah Barbar di Mediterinian (Afrika Utara dan Spanyol) itu, merupakan salah satu jaringan penting dari rute utama perdagangan Internasional yang terbentang antara China dan Spanyol, dan antara Afrika Hitam dengan Asia Tengah.

 D. Interregnum (Masa Peralihan Pemerintahan) Umar bin Abdul Aziz
 Interregnum ini terjadi pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang mana pada peerintahan yang dulunya kejam, menekan rakyat dan sebagainya, menjadi kepada masa yang damai, lemah, lembut dan makmur. Dengan kebijaksanaannya ini banyak orang yang masuk Islam. Dan mengadakan dialog dengan orang syi’ah dan khawarij sehingga mereka puas dan tidak mengganggu lagi. Namun kedamaian dan kemakmuran ini dimanfaatkan oleh Bani Hasyim untuk membentuk gerakan bawah tanah. Gerakan ini terdiri dari orang-orang Syi’ah dan keluarga Abbas. Gerakan inilah yang berhasil menumbangkan bani Umayah nantinya.

 E. Pembangunan Peradaban, Intelektual, bahasa dan sastera Arab.
 Masa Bani Umayah ini merupakan peletak dasar pembangunan peradaban Islam yang nanti pada masa Bani Abbas merupakan puncak dari peradaban Islam. Pada masa ini ilmu Naqliyah mulai berkembang. Perkembangan yang aling menonjol adalah ilmu tafsir dan ilmu hadits. Dan terjadi pengumpulan hadits pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang dikumpulkan oleh ‘Ashim al-Anshari. Muncul juga ilmu Nahwu (tata bahasa Arab) sehingga Sibawaihi menyusun al-kitab untuk memperlajari tata bahasa arab.

 Khalifah Mu’awiyah memerinthkan karya-karya bangsa Yunani yang mengandung berbagai macam Ilmu. Dengan demikian umat Islam pada masa ini mulai mengenal ilmu kedokteran, ilmu Kalam, seni bangunan (architecture) dan sebagainya. Diantara peninggalan seni bangunan yang terkenal sampai sekarang adalah Qubbah al-Sakhr (Dome of the Rock) yang didirikan di Yerussalem pada 91 H pada masa pemerintahan Khalifah Abdul Malik.

 F. Sistem Militer
 Pada masa Dinasti Bani Umayah orang masuk tentara kebanyakan dengan dipaksa atau setengah dipaksa. Untuk menjalankan kewajiban ini dikeluarkan semacam undang-undang wajib militer yang dinamakan Nidhamut Tajnidil Ijbary.

 Politik ketentaraan dari Bani Umayah, yaitu politik Arab, dimana anggota tentara haruslah terdiri dari orang-orang Arab atau unsur Arab. Maka dari itu mereka terpaksa meminta bantuan kepada bangsa Barbari untuk menjadi tentara karena wilayah mereka yang luas meliputi Afrika Utara, Andalusia, dan lain-lain.

 1. Perluasan Ke Asia Kecil
 Dengan armada laut yang terdiri dari 1700 kapal, lengkap dengan perbekalan dan persenjataannya. Lalu Mu’awiyah menyerang pulau-pulau dilaut tengah sehingga berhasil menduduki pulau Rhodes tahun 53 H dan pulau Kreta tahun 54 H. Kemudian di serang kota Konstatinopel. Pulau-pulau ini dekat Cyprus yang telah ditaklukkan pada zaman Usman. Penyerangan ini dipimpin oleh Janadah bin Abi Umayah. Kemudian mengepung kota Konstatinopel di bawah pimpinan Yazid bin Mu’awiyah dan didampingi oleh pahlawan Islam yang berani seperti Abu Ayyub al-Anshar, Abdullah ibnu Zuber, Abdullah ibnu Umar dan Ibnu Abbas. Pengepungan ini selama 7 tahun (54-61 H). Abu Ayyub al-Anshar gugur pada peperangan ini. Penyerangan pertama ini gagal karena ada pengkhianatan Loen Mar’asy.

 2. Perluasan ke Timur
 Ke arah Timur dapat menaklukkan daerah Khurasan sampai ke sungai Oxus dan dari Afghanistan sampai ke Kabul. Kemudian diteruskan pada zaman bd. Malik di bawah pimpinan Al- Hajjaj ibn Yusuf. Kemudian dapat menundukkan daerah Balkh, Bukhara, Khawarizan, Fergnana, dan Samarkand. Selanjutnya pasukan muslim juga samapi ke India serta dapat menguasai Balukhistan, Sind, dan daerah Punjab sampai ke Multan (713 H).

 3. Perluasan ke Afrika Utara
 Uqbah ibn Nafi’ al-Fahri telah menetap di Barqah setelah wilayah itu dikuasai. Oleh karena kemahiran dan keberaniannya, ia mengalahkan armada Bizantium di daerah pantai, barbar dipedalaman, serta Tripoli dan Fazzan.

 Kekuatan Maritim Islam menjadi lebih berkembang pada masa Umayah timur. Pada masa Khalifah al-Walid. Jenderal Thariq bin Ziyad dapat menyeberangkan ajaran Isla ke Spanyol. Dan pada tahun 95 H/ 713 M dapat membebaskan rakyat Spanyol dan Eropa dari penindasan bangsa Visigoth (Gothik) Barat yang telah berkuasa selama 300 tahun.

 G. Prestasi Dinasti Umayyah

 1. Bidang Fisik Dalam pembangunan fisik, pada Diansti Umayyah telah didirikan pos-pos yang pada pemerintahan sebelumnya tidak ditemukan. Lebih lengkapnya, dapat dikatakan bahwa beberapa prestasi Dinasti Umayyah dalam pembangunan fisik adalah sebagai berikut:
 a. Membangun pos-pos serta menyediakan kelengkapan peralatannya.
 b. Membangun jalan raya.
 c. Mencetak mata uang.
 d. Membangun panti asuhan.
 e. Membangun gedung pemerintahan.
 f. Memblingun mesjid.
 g. Membangun rumah sakit.
 h. Membangun sekolah studi kedokteran.

 2. Perluasan Wilayah Kekuasaan.
 Dalam hal perluasan wilayah, Dinasti Umayyah menjalankan ekspansi sebagai berikut:
 a. Menguasai Tunis pada tahun 760 M di bawah pimpinan Uqbah bin Nafi'.
 b. Menguasai Khurasan hingga Lahore di sebelah Timur.
 c. Menguasai Bizantium.
 d. Menguasai Rhodes dan pulau-pulau kecil lainnya di Yunani.
 e. Di sebelah Barat, Dinasti Umayyah berhasil menaklukkan Aljazair dan Maroko.
 f. Selanjutnya, Dinasti Umayyah berhasil menaklukkan Andalusia yakni Toledo, Sevilla, Malaga, Elvira dan Cordova.
 g. Penaklukkan yang sama berlanjut hingga ke Cadiz dan Calica.
 h. Menaklukkan Baikh, Bukhara, Khawarizm, Farghana dan Samarqand.
 i. Menaklukkan India, hingga ke Brahmanabat.

 H. Kemunduran dan Kehancuran Dinasti Bani Umayah

 Dinasti yeng didirikan oleh Muawiyyah bin Abu Sofyan ini, dari beberapa khalifah yang memegang kekuasaan, hanya beberapa orang saja yang dianggap berhasil dalam menjalankan roda pemerintahannya antara lain : Muawiyyah bin Abu Sofyan, Abdul Malik bin Marwan, al-Walid bin Abdul Malik, Umar bin Abdul Aziz dan Hisyam bin Abdul Maiik, selain mereKa itu merupakan khalifah yang lemah. Dinasti ini mencapai puncaknya pada masa al Walid I bin Abdul Malik dan kemudian akhirnya menurun dan kekuasaan mereka direbut oleh Bani Abbasiyah pada tahun 750 M. 

Diantara faktor penyebab keruntuhan Dinasti Umayyah ini, menurut Hasan Ibrahim Hasan adalah :
 1. Pengkatan Dua Putera Mahkota
 2. Munculnya Fanatisme Suku
 3. Terlena Dalam Kemewahan
 4. Fanatik Arab

  BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan 
1. Dinasti umayyah diambil dari nama Umayyah Ibn ‘Abdi Syams Ibn ‘Abdi Manaf, Dinasti ini sebenarnya mulai dirintis semenjak masa kepemimpinan khalifah Utsman bin Affan namun baru kemudian berhasil dideklarasikan dan mendapatkan pengakuan kedaulatan oleh seluruh rakyat setelah khalifah Ali terbunuh dan Hasan ibn Ali yang diangkat oleh kaum muslimin di Irak menyerahkan kekuasaanya pada Muawiyah setelah melakukan perundingan dan perjanjian. Bersatunya ummat muslim dalam satu kepemimpinan pada masa itu disebut dengan tahun jama’ah (‘Am al Jama’ah) tahun 41 H (661 M).
 2. Sistem pemerintahan Dinasti Bani Umayyah diadopsi dari kerangka pemerintahan Bizantium, dimana ia menghapus sistem tradisional yang cenderung pada kesukuan. Pemilihan khalifah dilakukan dengan sistem turun temurun atau kerajaan, hal ini dimulai oleh Umayyah ketika menunjuk anaknya Yazid untuk meneruskan pemerintahan yang dipimpinnya pada tahun 679 M.
 3. Pada masa kekuasannya yang hampir satu abad, dinasti ini mencapai banyak kemajuan. Dintaranya adalah: kekuasaan territorial yang mencapai wilayah Afrika Utara, India, dan benua Eropa, pemisahan kekuasaan, pembagian wilayah kedalam 10 provinsi, kemajuan bidang administrasi pemerintahan dengan pembentukan dewan-dewan, organisasi keuangan dan percetakan uang, kemajuan militer yang terdiri dari angkatan darat dan angkatan laut, organisasi kehakiman, bidang sosial dan budaya, bidang seni dan sastra, bidang seni rupa, bidang arsitektur, dan dalam bidang pendidikan.
 4. Kemunduran dan kehancuran Dinasti Bani Umayyah disebabkan oleh banyak faktor, dinataranya adalah: perebutan kekuasaan antara keluarga kerajaan, konflik berkepanjagan dengan golongan oposisi Syi’ah dan Khawarij, pertentangan etnis suku Arab Utara dan suku Arab Selatan, ketidak cakapan para khalifah dalam memimpin pemerintahan dan kecenderungan mereka yang hidup mewah, penggulingan oleh Bani Abbas yang didukung penuh oleh Bani Hasyim, kaum Syi’ah, dan golongan Mawali.

 B. Saran 
Semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi pemakalah dan seluruh pembaca. Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan maka dari itu saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk kemajuan dan kesempurnaan di masa mendatang.


  DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah, (Bandung: Salamadani, 2012), cet ke-5
Ahmad al-Usairi, Sejarah Islam Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX, (Jakarta: Akbar Media Sarana, 2003)
A. Hasymy, Sejarah Kebudayaan Islam, (Jakarta, Bulan Bintang, 1975) 
A. Latif Osman, Ringkasan Sejarah (Jakarta: Widjaya, 1951) 
Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1994) 
Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2008) 
Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, (Jakarta, UI Press, 1978), jilid 1 
Hasan Ibrahim Hasan, Sejarah dan Kebudayaan Islam, terj, Jahdan Ibn Human (Yogyakarta; Kota Kembang. 1995) 
Jousouf Souyb, Sejarah Umayyah (Jakarta: Bulan Bintang, 1977) 
Maidir Harun dan Firdaus, Sejarah Peradaban Islam, (Padang: IAIN-IB Press, 2002), jilid 1, Cet ke-2 
Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik, (Jakarta, Prenada Media, 2010)
Philip.K.Hitti, Dunia Arab, terj. Ushuluddin Hutagalung dan O.D.P Sihombing (Bandung Sumur Bandung.tt) 
Siti Maryam (Ed), Sejarah Peradaban Islam Dari Masa Klasik Hingga Modern, (Yogyakarta: SPI Adab IAIN Sunan Kalijaga, 2002) 
W. Montgomary Watt, Pergolakan Pemikiran politik Islam, (Jakarta:Bennabi Cipta, 1985)

Rabu, 21 Mei 2014

Senin, 18 November 2013

Tugas Perkembangan Kehidupan pribadi, pendidikan dan Karier, dan Kehidupan Berkeluarga



Tugas Perkembangan Kehidupan pribadi, pendidikan dan Karier, dan Kehidupan Berkeluarga
A.    Perkembangan Kehidupan pribadi Sebagai Individu

1.      Pengertian Kehidupan Pribadi dan Karakteristik
            Pada hakikatnya manusia merupakan pribadi yang utuh dan memiliki sifat-sifat sebagai makhluk individu dan makhluk sosia. Dalam kedudukan sebagai makhluk  individu , seseorang menyadari bahwa dalam kehidupannya memiliki kebutuhan yang diperuntukkan bagi kepentingan diri pribadi, baik fisik maupun non fisik. Kebutuhan diri pribadi tersebut meliputi kebutuhan fisik dan kebutuhan sosiopsikologis. Dalam pertumbuhan fisiknya, manusia memerlukan kekuatan dan daya tahan tubuh serta perlindungan keamanan fisiknya. Kondisi fisik amat penting dalam perkembangan dan pembentukan pribadi seseorang.
            Kehidupan pribadi seseorang individu merupakan kehidupan yang utuh dan lengkap serta memiliki ciri khusus yang unik. Kehidupan pribadi seseorang menyangkut berbagai aspek antara lain emosional, sosial psikologis, sosial budaya dan kemampuan intelektual.
            Kebutuhan fisik tiap orang perlu pemenuhan, misalnya bernafas dengan lega, perlu makanan enak dan cukup. Berkaitan dengan aspek sosio psikologis , setiap pribadi membutuhkan kemampuan untuk menguasai sikap dan emosinya serta sarana komunikasi untuk bersosialisasi. Dengan demikian masalah kehidupan pribadi merupakan bentuk integrasi antara faktor fisik, sosial budaya dan faktor psikologis. Disamping itu seorang individu juga membutuhkan pengakuan dari pihak lain tentang harga dirinya, baik dari keluarganya maupun dari luar keluarganya.

2.      Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Pribadi
            Perkembangan pribadi menyangkut perkembangan berbagai aspek yang akan ditunjukkan dalam perilaku. Faktor utama yang mempengaruhi perkembangan pribadi anak adalah kehidupan keluarga beserta berbagai aspeknya. Perkembangan anak yang menyangkut perkembangan psikofisis dipengaruhi oleh : status sosial ekonomi, filsafat hidup keluarga, dan pola hidup keluarga seperti kedisiplinan, kepedulian terhadap kesehatan dan ketertiban.  Perkembangan kehidupan seseorang ditentukan pula oleh faktor keturunan dan lingkungannya. Aliran natifisme menyatakan bahwa seorang indivudu akan menjadi “orang” sebagai mana adanya yang telah ditentukan oleh kemampuan dan sifatnya yang dibawa sejak ia dilahirkan. Sedangkan aliran empirisme menyatakan sebaliknya bahwa ia akan menjadi “manusia” seperti yang dikehendaki oleh lingkungannya . kedua aliran itu menggambarkan bahwa faktor bakat dan pengauh lingkungan sama-sama mempunyai pengaruh terhadap perkembangan pribadinya.

3.      Perbedaan Individu Dalam Perkembangan Pribadi 
            Lingkungan kehidupan sosial budaya yang mempengaruhi perkembangan pribadi seseorang amatlah kompleks dan heterogen. Baik lingkunagn alamai maupun lingkunagn yang diciptakan untuk maksud membentuk pribadi anak-anak dan remaja masing-masing memiliki ciri-ciri yang berbeda. Secara singkat, bahwa perkembangan pribadi setiap individu berbeda-beda pula sesuai lingkungan dimana mereka dibesarkan.

4.      Pengaruh Perkembangan Kehidupan Pribadi Terhadap Tingkah Laku
            Tingkah laku seseorang juga dipengaruhi oleh hasil perkembangan kehidupan sebelumnya dan dalam perjalanannya berintegrasi dengan kejadian-kejadian saat sekarang. Dapat diakatakan bahwa jika saat perkembangan kehidupan pribadi terbentuk secara terpadu dan harmonis, maka dapat diharapkan tingkah laku yang merupakan pengejawantahan berbagai aspek priabadi itu akan baik. Kehidupan pribadi yang mantap memungkinkan seorang anak akan berperilaku mantap yaitu : mampu menghadapi dan memcahkan berbagai permasalahan dengan pengendalian emosi secara matang, tertib, disiplin dan penuh tanggung jawab.
5.      Upaya Pengembangan Kehidupan Pribadi
            Proses pertumbuhan dan perkembangan perlu dipersiapkan dengan baik. Untuk itu perlu dilakukan pembiasaan dalam hal :
a.       Hidup sehat dan teratur serta pemanfaatan waktu secara baik
b.      Mengerjakan tugas secara praktis sehari-hari secara mandiri dengan penuh tanggung jawab
c.       Hidup bermasyarakat dengan memalkukan pergaulan dengan sesama
d.      Cara-cara pemecahan masalah yang dihadapi
e.       Mengikuti aturan keluargan dengan penuh tanggung jawab dan disiplin
f.       Melakukan peran dan tanggung jawab dalam kehidupan berkeluaraga
B.     Perkembangan Kehidupan  dan karier

1.      Pengertian Kehidupan Pendidikan dan Karier
      Kehidupan pendidikan merupakan pengalaman proses belajar yang dihayati sepanjang hidupnya, baik dalam jalur pendidikan sekolah maupun luar sekolah. Kehidupan pendidikan yang dimaksud baik yang dialami oleh remaja didalam lingkungan keluarga, sekolah atau kehidupan masyarakat. Sedangkan kehidupan karier merupakan pengalaman seseorang dalam dunia kerja. Pada hakikatnya kehidupan anak didalam kehidupan merupakan awal kehidupan karier nya. Baik didalam kehidupan pendidikan maupun kehidupan karier, para remaja memperoleh pengalaman yang menggambarkan adanya pasang surut.

2.      Karakteristik Kehidupan Pendidikan dan Karier
      Cita-cita tentang jenis pekerjaan dimasa yang akan datang merupakan faktor penting yang mempengaruhi minat dan kebutuhannya untuk belajar. Dapat diakatakan bahwa remaja telah emiliki minat yang jelas terhadap jenis pekerjaan tertentu. Untuk itu remaja secara sadar telah mengetahui pula bahwa untuk mencapai jenis pekerjaan yang diidamkan itu memerlukan sarana pengetahuan dan keterampilan tertentu yang harus dimiliki.
a.       Lingkungan pendidkan keluarga
            Keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan utama bagi anak-anak dan remaja. Pendidikan keluarga lebih menekankan pada aspek moral atau pembentyukan kepribadian dari pada pendidikan menguasai ilmu pengetahuan. Dasar dan tujuan penyelenggaraan pendidikan keluarga bersifat individual, sesuia dengan pandangan hidup keluarga masing-masing, sekalipun secara nasional bagi keluarga-keluarga bangsa indonesia memiliki dasra yang sama yaitu pancasila.
            Banyak corak dan pola penyelenggaraan pendidikan keluarga yang secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi 3 pola pendidikan yaitu, pendidikan otoriter, pendidikan demokratis dan pendidikan liberal.
b.      Masyarakat
            Anak remaja telah banyak mengenal krakteristik masyarakat dengan berbagai norma dan keragamannya. Kondisi mesyarakat yang amat beragam, tentu banyak hal yang harus di perhatikan dan diikuti oleh anggota masyarakat, dan dengan demikian para remaja perlu memahami hal itu. Dalam menjalankan fungsi pendidikan, masyarakat banyak membentuk kelompok-kelompok yang secara sengaja disediakan untuk anak remaja dalam upaya mempersiapkan hidupnya dikemudian hari.
c.       Sekolah
            Sekolah merupakan lingkungan arti fisial yang sengaja   diciptakan untuk membina anak-anak kearah tujuan tertentu, khususnya untuk memberikan kemampuan dan keterampilan sebagai bekal kehidupannya di kemudian hari.
            Bagi para remaja pendidikan jalur sekolah yang diikutinya adalah jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Dimata remaja sekolah dipandang sebagai lembaga yang cukup berpengaruh terhadap terbentuknya konsep yang berkenaan dengan nasib mereka dikemudian hari. Kegagalan sekolah dipandangnya sebagai awal kegagalan hidupnya. Oleh karena itu remaja telah memikirkan benar-benar dalam memilih dan mendapatkan sekolah yang diperkirankan mampu memberikan peluang baik baginya dikemudian hari.pandangan ini didasari oelh berbagai faktor, seperti faktor ekonomi, faktor sosial, dan harga diri.

3.      Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kehidupan dan karier
a.       Faktor Sosial Ekonomi
            Kondisi sosial yang menggambarkan status orang tua merupakan faktor yang dilihat oleh anak untuk menentukan pilihan sekolah dan pekerjaan. Secara tidak lansung keberhasilan orang tuanya merupakan beban bagi anak sehingga dalam menentukan pilihan pendidikan tersirat untuk ikut mempertahankan kedudukan orang tuanya.

b.      Faktor Lingkungan
            Yang dimaksud lingkungan disisni meliputi tiaga macam. Pertama, lingkungan kehidupan masyarakat. Lingkungan kehidupan masyarakat akan membentuk sikap anak dalam menentukan pola kehidupan, yang pada gilirannya akan mempengaruhi pemikirannya dalam menentukan jenis pendidikan dan karier yang diidamkan. Kedua, lingkungan kehidupan rumah tangga, kondisi sekolah merupakan lingkungan yang langsung berpengaruh terhadap kehidupan pendidikan dan cita-ciita karier remaja. Ketiga, lingkungan teman sebaya. Bahwa pergaulan teman sebaya akan memberikan pengaruh langsung terhadap kehidupan pendidikan masing-masing remaja. Lingkungan teman sebaya akan memberikan peluang remaja untuk menjadi lebih matang.
c.       Faktor Pandangan Hidup
            Pendangan hidup itu sendiri merupakan bagian yang terbentuk karena lingkungan. Pengejawantahan pandangan hidup tampak pada pendirian seseorang, terutama dalam menyatakan cita-cita hidupnya.

4.      Pengaruh Perkembangan Kehidupan Pendidikan dan Karier terhadap tingkah laku dan sikap
      Pada jenjang pendidkan dasar yang kurikulumnya masih sangat umum, sekolah tersebut menyediakan pelajaran dasar yang belum bermakna sebagai pembekalan anak-anak untuk siap bekerja dan belum terarah kepemberian keterampilan tertentu untuk terjun  kedunia kerja didalam masyarakat. Hal ini dapat menimbulkan pandangan yang bermacam-macam bagi para remaja beserta  orang tua mereka, terutama bagi keluarga yang kurang mampu.

5.      Perbedaan individu dalam perkembangan pendidikan dan karier
      Tentang perkembangan intelek, bahwa pencapaian tingkat pendidikan dipengaruhi oleh tingkat kecerdasan atau IQ. Dalam kenyataanya IQ setiap individu berbeda-beda, maka hal itu akan berpengaruh terhadap pola kehidupannya didalam bidang pendidikan.
Berhubung kehidupan pendidikan merupakan bagian awal dari kehidupan karier, maka dengan perbedaan kehidupan pendidikan tersebut konsekuensinya akan membawa perbedaan indivudual didalm kehidupan kariernya.

6.      Upaya Pengembangan Kehidupan pendidikan dan Karier
      Menghadapi tiga lingkungan yang berbeda-beda, dapat menyebabkan peserta didik mengalami kebingungan untuk mengikutinya. Untuk itu, hubungan antara tiga pelaksana pendidikan itu satu sama lain harus mengadakan pendekatan untuk mencapai keharmonisan program.
      Tetapi dibalik itu diakui bahwa tidak semua remaja telah siap menghadapi kondisi masyarakat yang terus berkembang. Akibatnya mereka belum memilki konsep kehidupan masa depan. Hal ini akan berakibat bahwa mereka tampak tidak memilioki pendirian, mengalami kesulitan memilih jenis pekerjaan dan banyak mengikuti serta tergantung kepada kelompok.
a.       Perkembangan karier remaja
            Pendidikan merupakan persiapan menuju suatu karier, sedangkan dalam arti luas, pendidikan itu merupakan bagian dari proses perkembangan karier remaja. Menurut Ginzberg perkembangan kariernya telah mencapai pada periode pilihan tentatif dan sebagian berada pada periode pilihan realistis, sedangkan menurut Super perkembangan karier anak remaja itu berada pada tahap eksplorasi, terutama subtahap  tentatif dan sebagian dari subtahap transisi.
1.      Tahap minat (Umur 11-12 tahun )
Remaja sudah mulai mempunyai rencana dan kemungkinan pilihan karier yang didasarkan pada minat.
2.      Tahap kapasitas ( Umur 12-14 tahun )
Remaja mulai menggunakan keterampilan dan kemampuan pribadinya sebagai pertimbangan dalam melakukan pilihan dan rencana-rencana karier.
3.      Tahap nilai (umur 15-16 tahun )
Anak mulai melihat apa yang sesungguhnya penting bagi dirinya, tahu perbedaan konsepsi tentang berbagai hidup yang disiapkan oleh pekerjaan, kesadaran akan pentingnya waktu mulai berkembang.
4.      Tahap transisi (umur 17-18 tahun )
Dallam rahap ini remaja mulai bergerak dari pertimbangan-pertimbangan realistis yang masih berada di pinggir kesadaran kedalam posisi yang lebih sentral.
b.      Masalah yang dihadapi
            Dalam proses perkembnagan karier remaja sering mengalami berbagai masalah dan hambatan, yang berasal dari dalam dirinya sendiri, dari luar dirinya atau dari lingkungan ataupun kedua duanya. Oleh karena itu, untuk mengahdapi remaja yang mengalami masalah atau kesulitan dalam memilih karier, Shertzer menyarankan hal-hal berikut :
1.      Pelajari dirimu sendiri
2.      Dibidang apa yang pali kamu sreg
3.      Tulisalah rencan dan cita-citamu secara formal
4.      Biasakan dirimu dengan tuntutan pekerjaan tertentu yang kamu minati
5.      Tinjau dan bicarakan lagi rencan kariermu itu dengan orang lain
6.      Jika ternyata pilihan kariermu tidak cocok hentikan.
Untuk mengatsai masalah perkembangan dan pilihan karier, layanan bimbingan karier dilakukan melalui kegiatan  :
a.       Pemahaman diri
b.      Pemahaman lingkungan
c.       Cara-cara mengatasi masalah dan hambatan  dalam perencanaan dan pemilihan karier
d.      Rencana masa depan
e.       Usaha penyaluran,  penempatan, pengaturan, dan penyesuaian.

C.    Tugas Perkembangan remaja Berkenaan dengan Kehidupan berkeluarga
1.      Pengertian kehidupan berkeluarga
      Secara biologis pertumbuhan remaja telah mencapai kematangan seksual,yang berarti bahwa secra biologis remaja telah siap melakukan fungsi produksi. Kematangan fungsi seksual tersebut berpengaruh terhadap dorongan seksual remaja dan telah mulai tertarik kepada lawan jenis. Garrison menyatakan bahwa dorongan seksual pada masa remaja adalah cukup kuat, sehingga perlu dipersiapkan secara matang tentang hal-hal yang berhubungan dengan perkawinan, karrena masalah tersebut mendasari pemikiran mereka untuk mulai menetapkan pasangan hidupnya.
      Berkenaan dengan upaya untuk menetapkan pilihan pasangan hidup, perkembangan social psikologis remaja ditandai dengan upaya menarik lawan jenis dengan berbagi cara ditunjukan dalam bentuk prilaku.

2.      Timbulnya cinta dan Jatuh Cinta
      Hampir setiap pemuda mempunyai dua tujuan utama,pertama menemukan jenis pekerjaan yang sesuai ,kedua menikah dan membangun sebuah rumah tangga . mulai saat itu lelaki atau wanita telah berangan-angan untuk menemukan pasangan yang ideal. Gejala prilaku setiap orang yang jatuh cinta tidak selalu sama dan mungkin seorang remaja telah memulai mempelajari peran seksual lebih baik di bandingkan remaja lain dan sebaliknya.
      Para ahli ilmu jiwa social sependapat bahwa konsepsi yang menentukan saling tertariknya antara person relevan dengan upaya menciptakan hubungan yang akrab dan hal itu berlangsung dalam kurun waktu yang relative panjang. Hal ini dipengaruhi banyak hal antara lain : penampilan masa kini,antisipasi masa depan ,pertimbangan biaya,dan hal yang berkaitan denag peranan masing-masing pihak dalam mengawali dan menjaga hubungan satu sama lain. Secord dan Backman menyatakan bahwa menciptakan hubungan yang intim,dicapai melalui tiga tahap, yaitu : 1.tahap eksplorasi 2. Tahap penawaran 3. Tahap komitmen.
Dapat diidentifikasiakan perubahan-perubahan perilaku remaja dalam melakukan pergaulan dengan lawan jenis.perubahan perilaku ini telah dikemukakan secra ringkas oleh Burgess dan Hustob sebagai berikut :
1.      Mereka lebih sering berhubungan dalam periode waktu yang agak lama.
2.      Mereka mencapai pendekatan bila berpisah dan merasa ada peningkatan berhubungan bila bertemu kembali.
3.      Mereka terbuka satu sama lain tentang perasaan yang mereka rahasiakan dan secra fisik menunjukan keakraban.
4.      Mereka menjadi lebih terbiasa dan saling berbagi perasaan suka dan duka
5.      Mereka mengembangkan system komunikasi mereka sendiri, dan komunikasi itu meningkat lebih efisien.
6.      Dst…

3.      Masyarakat dan Perkawinan
      Pemilihan pasangan hidup yang berakhir dengan perkawinan, berarti merupakan pertanda terbentuknya inti kekeluargaan atau perluasan atau kelanjutan tentang pemekaran keluarga. Perkawinan antara laki-laki dan wanita tidak dengan begitu saja dapat terjadi, walaupun masing-masing dapat berpendapat bahwa hal itu dirasakan sebagai hal yang “bebas”. Kenyataannya setiap masyarakat didunia memiliki norma berkenaan dengan masalah perkawinan. Dengan pengertian ini berarti bahwa perkawinan antara pria dan wanita bukan saja masalah yang didorong oleh faktor biologis, melainkan diatur oleh berbagai aturan atau norma yang berlaku didalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Eshlemandan Cashion ( 1983:311) menyatakan bahwa norma perkawinan yang berlaku disetiap masyarakat dapat dibedakan menjadi dua kategori, yaitu exogamy dan indogamy. Dalam exogamy, norma yang hampir berlaku secara universal, seperti larangan kawin antara laki-laki dan wanita dari satu ibu, satu bapak, kawin antara saudara sekandung, perkawinan antar saudara sepupu, perkawinan sama jenis, dan sebagainya.
      Disamping faktor fisik ( biologis) dan psikologis, faktor-faktor lain yang dijadikan pertimbangan dalam menetapkan calon pasangan hidup adalah kesamaan-kesamaan dalam hal : ras, bangsa, agama, dan status sosial ekonomi. Khusus tentang faktor sosial ekonomi mencakup berbagai aspek, antara lain misalnya menyangkut masalah pergaulan dan pekerjaan. Remaja telah banyak memiliki pengalaman dan memperhatikan serta belajar dari keadaan lingkungan. Lingkungan kehidupan keluarag yang digelar dilingkungannya sangat majemuk. Baik dilihat dari kondisi ekonomi, tingkat pendidikan, maupun agama dan kebudayaan. Atas dasar itu, secara  psikologis remaja banyak menerima pengaruh dari lingkungan tentang kehidupan berkeluarga. Hal semacam ini dengan sendirinya akan dapat membentuk  sikap dan cita-cita tentang kehidupan berkeluarga (yang dibayangkan ) dimasa yang akan datang dan berpengaruh dalam kriteria penetapan pasangan hidupnya.

D.    Implikasi Tugas-tugas Perkambangan Reamaja Dalam Penyelenggaraan Pendidikan

a.       Pendidikan yang berklaku di Indonesia, baik pendidikan yang diselenggarakan di dalam sekolah maupun di luar sekolah. Pada umumnya diselenggarakan dalam bentuk klasikal. Penyelenggaraan pendidikan klasikal ini berarti memberlakukan sama semua tindakan pendidikan kepada semua remaja yang tergabung didalam kelas, sekalipun masing-masing diantara mereka sangat berbeda-beda.

b.      Beberapa usaha yang perlu dilakukan didalam penyelenggaraan pendidikan, sehubungan dengan minat dan kemampuan remaja yang dikaitkan terhadap cita-cita kehidupannya antara lain adalah :
1.      Bimbingan karier dalam upaya mengarahkan siwa untuk menentukan pilihan jenis pendidikan dan jenis pekerjaan  sesuai dengan kemampuannya.
2.      Memberikan latihan-latihan praktis terhadap siswa dengan berorientasi kepada kondisi (tuntutan) Lingkungan.
3.      Penyusunan kurikulum yang komprehensif dengan mengembangkan kurikulum muatan lokal.

c.       Kebersihan dalam memilih pasangan hidup untuk membentuk keluarga banyak ditentukan oleh pengalaman dan penyelesaian tugas-tugas perkembangan masa-masa sebelumnya. Untuk menegmbangkan modeln keluarga yang idel perlu dilakukan :
1.      Bimbingan tentang cara pergaulan dan mengajarkan etika pergaulan lewat pendidikan budi pekerti dan pendidikan keluarga.
2.      Bimbingan siswa untuk memahami norma yang berlaku baik di dalam keluarga, sekolah, maupun didlam masyarakat. Untuk kepentingan ini diperlukan arahan untuk kebebasan emosional dari orang tua.




















Pertanyaan
1.      Bagaimanakah upaya yang dapat dilakukan untuk perkembangan kehidupan pribadi yang akan memberikan pengaruh terhadap tingkah laku ?
2.      Jelaskan peranan keluarga, masyarakat dan  sekolah dalam perkembangan kehidupan pendidikan dan karier dari seorang anak !
3.      Bagaimanakah tindakan tindakan yang harus dilakukan seorang remaja untuk perkembangannya yang berkenaan dengan kehidupan berkeluarga ?