Senin, 18 November 2013

Hewan Invertebrata



BAB I
PENDAHULUAN
1.1   Latar Belakang
Sesuai dengan perkembangan zaman dan era globalisasi, biologi pun semakin berkembang. Cakupan wilayahnya semakin lama semakin luas dan semakin berkembang. Keragaman pemahaman dan keragaman penelitian yang dihasilkan, memang telah memberi ruang lebar bagi munculnya keinginandi kalangan masyarakat untuk mengetahui segala hal mengenai keanekaragaman hewan yang dipelajari dalam ilmu zoologi.Zoologi atau ilmu yang mempelajari tentang hewan.
Makhluk hidup yang dikelompokkan sebagai hewan (kingdom animalia) memiliki kesamaan ciri, yaitu organisme eukariot multiseluler yang tidak memiliki dinding sel dan klorofil. Hewan memperoleh makanan dari organisme lain karena tidak memiliki klorofil. Umumnya hewan dapat bergerak untuk memperoleh makanan dan mempertahankan hidupnya.
Selain memiliki persamaan ciri umum, hewan memiliki banyak perbedaan yang menunjukkan keanekaragamannya. Perbedaan ciri pada hewan tampak dari struktur tubuhnya. Berdasarkan ada tidaknya tulang belakang, hewan dibedakan menjadi vertebrata di dalamnya mempelajari hewan-hewan yang memiliki tulang belakang dan invertebrata di dalamnya mempelajari hewan-hewan yang tidak memiliki tulang belakang.
Dalam hal ini kami akan membahas filum invertebrata yaitu porifera, coelenterata, platyhelminthes, nemathelminthes, annelida, mollusca, antrhopoda, dan  echinodermata yang memiliki beberapa kelas di dalamnya. Dan tiap kelas memiliki ciri masing-masing sehingga disini kami akan menjelaskannya.
1.2   Permasalahan
Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas, maka penulis dapat merumuskan masalah dalam penulisan Makalah ini adalah : “Pengelompokkan filum invertebrata”

1.3   Tujuan Penulisan
Tim penulis memiliki beberapa tujuan dalam penulisan Makalah ini, yaitu :
a.       Mengetahui berbagai perbedaan pengelompokkan filum-filum yang terdapat dalam invertebrata.
b.      Mengetahui ciri dan  klasifikasi berbagai pengelompokkan dalam filum invertebrata.


1.4  Manfaat Penulisan

Dalam penulisan Makalah ini memiliki beberapa manfaat, yaitu :
1.             Diharapkan dapat memahami berbagai perbedaan pengelompokkan filum-filum yang terdapat dalam invertebrata.
2.             Diharapkan dapat memahami ciri dan  klasifikasi berbagai pengelompokkan filum invertebrata.

1.5  Metode Penulisan
Dalam mencari informasi-informasi yang relevan untuk mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan pengelompokkanfilum invertebrata, penulis menggunakan beberapa metode penulisan, yaitu :
1.    5. 1 Metode Pencarian Data Melalui Internet
Dengan menggunakan metode pencarian data melalui internet, penulis mencari berbagai literatur-literatur yang berkaitan dengan pengelompokkanfilum invertebrata.
1. 5. 2 Metode Pencarian Data Melalui Studi Pustaka
Dengan menggunakan metode pencarian data melalui studi pustaka, penulis mencari berbagai literatur-literatur yang berkaitan dengan pengelompokkan filum invertebrata.

BAB II
Pembahasan
Kamu tentu mengenal bekicot, kerang, udang, cumi-cumi, cacing, kupu-kupu, dan lebah. Semua hewan tersbut merupakan sebagian kecil dari kelompok hewan yang tidak memiliki tulang belakang atau yang disebut Invertebrata ( latin, in = tanpa, vertebrae = tulang belakang) yang mencakup 90- 95 % dari semua spesies hewan. invertebrata dapat dikelompakkan menjadi9 filum, yaitu :
1.         Filum Porifera

Porifera berasal dari kata porus = lubang-lubang kecil, dan fera = mengandung. Jadi, porifera berarti hewan yang memiliki pori-pori.



a.              Ciri Porifera
            Porifera merupakan hewan metazoa paling sederhana. Tubuh terdiri atas banyak sel. Bentuk tubuhnya seprti tabung atau jambangan yang berpori dan didalamnya terdapat rongga tubuh. rongga tubuh demikian disebut spongosol. Porifera biasa hidup di laut, mulai dari daerah perairan pantai yang dangkal hingga daerah berkedalaman 5,5 km. Tubuhnya melekat pada dasar laut dan tidak dapat berpindah tempat ( sesil ).
1)      Struktur tubuh
Porifera dianggap sebagai kelompok hewan multiseluler primitif. Dikatakan demikian karena struktur tubuhnya memiliki dua lapisan sel (diploblastik), yaitu lapisan luar dan lapisan dalam. Lapisan luar (ektoderm) disusun oleh sel-sel epidermis, sedangkan lapisan dalam (endoderm atau gastrodermis) disusun oleh sel-sel koanosit yang berflagel. Diantara ke dua lapisan tersebut terdapat bahan gelatin yang di sebut mesoglea. Didalam mesoglea terdapat bermacam-macam sel antara lain :

·         Ameboid, sel yang berfungsi mengedarkan zat-zat makanan.
·         Skleroblas, sel yang berfungsi membentuk spikula.
·         Porosit, sel yang berfungsi membuka dan menutup pori.
·         Arkeosit, sel ameboid embrional yang tumpul dan dapat ,membentuk sel-sel refroduktif.
·         Spikula, sel pembentuk tubuh.
2)      Pencernaan makanan
Makanan porofera berupa plankton atau bahan organik yang masuk bersama aliran air melewati pori. Porifera tidak memiliki sistem saluran pencernaan makanan. Sistem pencernaannya berlangsung secara intra seluler. Makanan masuk kedalam sel leher ( koanosit). Didalam sel tersebut berlangsung proses pencernaan makanan. Selanjutnya zat makanan di edarkan oleh sel-sel ameboid keseluruh tubuh.
3)      Sistem saluran air
Porifera memiliki sistem saluran air mulai dari pori tubuh atau ostium dan berakhir pada lubang keluar yang disebut oskulum. Saluran air tersebut berfungsi sebagai alat untuk melewatkan bahan makanan dari luar kedalam tubuh dan zat-zat sisa metabolisme keluar tubuh. Ada beberapa tipe sistem saluran air pada porifera, yaitu sebagai berikut.
a)      Tipe askon, merupakan tipe paling sederhana dan bentuknya seperti jambangan bunga. Tipe ini dijumpai pada Leucosolenia.
b)      Tipe sikon, merupakan tipe saluran air yang ostiumnya dihubungkan dengan saluran air yang bercabang-cabang ke rongga-rongga sel koanosit. Tipe ini dijumpai pada Scypha.
c)      Tipe leukon, merupakan tipe saluran air yang paling kompleks. Air masuk melalui ostium menuju ke rongga-rongga bulat yang saling berhubungan. Tipe ini dijumpai pada Spongila.
4)      Rangka Porifera
Tubuh Porifera memiliki bahan pembentuk kerangka (spikula). Bahan rangka tersebut ada bermacam-macam berikut ini  beberapa kelompok porifera berdasarkan bahan rangka tubuhnya.
a)      Porifera lunak, merupakan kelompok porifera yang memiliki kerangka tubuh dari bahan spongin.
b)      Porifera kapur, merupakan kelompok porifera yang memiliki kerangka tubuh dari zat kapur (CaCO3).
c)      Porifera silikat, merupakan kelompok porifera yang memiliki kerangka tubuh dari bahan kristal silikat (H2Si3O7). Reproduksi
            Porifera dapat melakukan reproduksi secara aseksual dan seksual. Reproduksi secara aseksual dilakukan dengan membentuk tunas (budding). Tunas akan memisahkan diri dari tubuh induknya dan tumbuh menjadi individu baru. Selain itu, ada juga yang menempel pada tubuh induk sehingga tampak seperti koloni porifera.
            Reproduksi secara seksual berlangsung melalui pertemuan ovum dan spermatozoid. Kedua sel gamet tersebut berkembang dari sel arkeosit. Pembuahan ovum oleh spermatozoid membentuk zigot yang terjadi didaerah mesoglea. Zigot akan tumbuh membentuk larva bersilia, disebut amfiblastula. Selanjutnya, larva tersebut akan keluar sehingga tubuh porifera melalui oskulum dan berenang mencari lingkungan yang sesuai sehingga tumbuh menjadi porifera dewasa.

b.             Klasifikasi filum Porifera
Berdasarkan bahan pembentuk rangka tubuh porifera dapat dibedakan menjadi tiga kelas, yaitu :
1)      Kelas Calcarea
Anggota kelas ini biasa hidup di daerah  pantai yang dangkal. Bentuk tubuhnya sederhana. Semua anggotanya memiliki kerangka tubuh yang terbuat dari bahan CaCO3 dengan koanosit berukuran besar. Contohnya Leucosolenia, Clatharina, Grantia, sycon, dan Scypha.
2)      Kelas Hexactinellida
Hidup di laut dalam dan memiliki sistem saluran air tipe askon. Kerangka tubuh tersusun dari zat kersik (H2SiO3) dan spikula berduri enam. Contohnya, Euplectella, Pheronema, Hyalonema.
3)      Kelas Demospongiae
Pada umumnya, anggota kelas ini hidup dilaut, meskipun sebagian kecil ada yang hidup di air tawar,. Kerangka tubuh tersusun dari zat kersik, spongin, atau campuran keduanya. Sistem saluran air tipe leukon. Contohnya, Euspongia, Spongilla, Cliona, Microciona.


c.       Peran porifera dalam kehidupan
            Porifera belum memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Pada beberapa negara maju, misalnya Amerika Serikat. Porifera dimanfaatkan untuk memproduksi spons. Spons tersebut dimanfaatkan sebagai alat penggosok tubuh pada waktu mandi dan alat pembersih kaca.

2.        Filum Coelenterata
            Coelenterata berasal dari bahasa yunani, koilos (rongga) dan enteron ( usus). Jadi, coelenterata adalah kelompok hewan yang berongga. Coelenterata kebanyakan hidup dilaut, hanya beberapa jenis yang hidup di air tawar.

a.              Ciri filum Coelenterata
            Coelenterata termasuk metazoa yang bersifat diploblastik. Tubuh tersusun dari dua lapisan jaringan, yaitu ektoderm dan endoderm. Di antara kedua lapisan tersebut terdapat mesoglea.
            Bentuk tubuh simetri radial. Pada bagian tengah tubuh terdapat rongga pancernaan (enteron) yang berfungsi sebagai alat pencernaan makanan. Coelenterata tidak memiliki anus sehingga sisa makanan dikeluarkan melalui mulut dengan cara dimuntahkan. Mulut Coelenterata dikelilingi oleh tentakel yang berfungsi sebagai alat penangkapan mangsa, alat gerak, dan alat pertahanan. Susunan sarafnya masih bersifat primitif, terdidri atas anyaman sel araf yang tersebar secara difus ( tidak memiliki pusat saraf). Reproduksi berlangsung secara aseksual dan seksual.
            Coelenterata memiliki sel penyengat (nematosista) yang berfungsi untuk mempertahankan diri dan melumpuhkan mangsanya. Alat penyengat terletak pada lapisan ektoderm.
            Dalam hidup Coelenterata dikenal dua bentuk tubuh, yaitu polip dan dan medusa. Polip merupakan bentuk hidup yang biasa menempel pada dasar perairan, baik secara soliter (sendiri) maupun secara berkoloni. Medusa merupakan bentuk hidup bebas, melayang didalam air.

b.             Klasifikasi Filum Coelenterata
Coelenterata dapat dikelompokkan menjadi tiga kelas, yaitu :
1)      Kelas Hydrozoa
Nama kelas Hydrozoa berasal dari bahasa yunani, hydro = air, zoa= hewan. Pada umumnya, anggota kelas ini memiliki pengaliran bentuk hidup ( polip dan medusa) di sepanjang hidupnya. Contohnya adalah :
a)      Hydra
Hydra hidup di air tawar, melekat pada daun-daun atau batang tanaman air. Hewan ini merupakan polip yang hidup soliter. Pada ujung atas tubuh terdapat mulut, disebut ujung oral. Mulut dikelilingi oleh enam sampai sepuluh tentakel dan bermuara dirongga gastrovaskuler.
Hydra dapat bereproduksi secara aseksual dan seksual. Reproduksi aseksual dilakukan dengan cara pembentukan tunas, sedangkan seksual dengan cara pembuahan ( Fertilisasi) sel telur oleh sperma.
b)      Obelia
Obelia hidup dilaut, tubuhnya berbentuk polip dan medusa. Dalam daur hidupnya, obelia mengalami pergiliran bentuk hidup, yaitu antara fase polip dengan fase medusa. Fase polip biasanya berbentuk koloni sehingga sering disebut koloni hidroid.
Daur hidup obelia dimulai dengan pembentuka  tunas pada polip sebagai calon medusa. Medusa yang telah dewasa melepaskan diri dan berenang bebas di air. Selanjutnya medusa dewasa menghasilkan sperma dan ovum. Pertemuan atntara sperma dan ovum menghasilkan zigot. Zigot akan tumbuh menjadi larva bersilia (planula) yang dapat berenang bebas. Planula akhirnya melekat pada suatu dasar perairan dan tumbuh menjadi polip obelia baru.
2)      Kelas Scyphozoa
Nama kelas Scyphozoa berasal dari bahasa yunani, skyphos = mangkok dan zoon = hewan. Jadi Scyphozoa berarti hewan yang memiliki bentuk tubuh seperti mangkok. Scyphozoa bersifat hermafrodit ( alat kelamin jantan dan betina terdapat pada satu individu . Salah satu contoh  dari kelompok hewan ini adalah ubur-ubur ( Aurelia).
Ubur-ubur hidup dilaut. Hewan ini sering ditemukan terdampar dipantai. Tubuh berbentuk seperti mangkok ( cawan) dan transparan. Seperti halnya obelia, ubur-ubur juga mengalami pergiliran keturunan antara fase polip dan fase medusa.
Daur hidup ubur-ubur dimulai dengan dibuahinya ovum oleh sperma sehingga membentuk zigot. Zigot tumbuh menjadi larva bersilia, disebut planula. Planula berenang bebas dan melekat di dasar perairan. Di dasar perairan, planula melepaskan silianya dan tumbuh menjadi polip yang disebut skifistoma.
Selanjutnya, skifistoma bertunas membentuk miniatur-miniatur medusa yang tersusun secara bertumpuk-tumpuk. Masing-masing miniatur disebut afira. Pada saat tertentu, efira akan melepaskan diri satu sama lainnya dan tumbuh menjadi medusa dewasa ( ubur-ubur). Ubur-ubur berjenis kelamin jantan dan betina yang masing-masingnya akan menghasilkan sperma dan ovum. Jika terjadi pembuahan, maka akan terbentuk zigot (kembali ke daur hidup).
3)      Kelas Anthozoa
Nama kelas Anthozoa berasal dari bahasa yunani, anthos = bunga dan zoon= hewan. Jadi, Anthozoa adalah kelompok hewan yang menyerupai bentu bunga.
Semua anggota anthozoa hidup dilaut mulai dari daerah pantai sampai kedalamam laut 6.000 meter. Anthozhoa merupakan bentuk polip yang biasa menempel pada suatu objek di dasar laut. Kelompok hean ini memiliki anggota yang paling besar dalam filum Coelenterata. Anthozoa dapat hidup secara soliter atau membentuk koloni. Anggota anthozoa meliputi anemon laut dan batu karang.
a)        Anemon Laut
Anemon Laut merupakan polip yang hidup secara soliter. Hewan ini memiliki banyak tentakel dengan warna yang beraneka ragam. Misalnya, berwarna merah, biru, jingga, merah muda, dan berbintik-bintik (bergaris-garis). Semua tentakel tersusun mengelilingi celah mulut, seperti halnya susunan mahkota bunga.
Anemon laut biasa menempelkan diri pada suatu objek dengan bagian tubuh yang disebut cakram kaki. Jika anemon laut diganggu, maka tentakel-tantakelnya segera ditarik masuk kedalam celah mulut dan tubuhnya mengerut. Berikut ini akan kita bahas struktur tubuh metridium yang dianggap dapat mewakili kelompok anemon laut.
Metridium memiliki tubuh berbentuk silinder. Nagian oral agak melebar sehingga tampak seperti corong yang dihiasi oleh rangkaian tentakel. Panjang tubuh berkisar antara 5 sampai 7 cm, meskipun ada yang mencapai 1 m.tubuh simetri radial dengan warna yang bervariasi, biasanya kuningatau cokelat. Tubuh dapat dibedakan atas tiga bagian, yaitu kaki (cakram pedal), batang tubuh ( kolumna atau skapus), dan kapitulum (cakram oral).
Mertridium dapat dijumpai dilaut mulai dari daerah pantai hingga kedalamam 99 m, terutama dilaut ang jernih dan hangat. Metridium merupakan hewan yang menetap di suatu tempat ( menempel pada suatu objek).
Makanan metridium kebanyakan berupa Invertebrata dan ikan berukuran kecil. Makanan atau amngsanya terlebih dahulu dilumpuhkan dengan racun yang dihasilkan oleh nematosista. Setelah itu, makanan dimasukkan kedalam mult dengan bantuan tentakel.
Metridium dapat bereproduksi secara aseksual dan seksual. Reproduksi aseksual dilakukan dengan cara pembentukan tunas dan fragmentasi, sedangkan seksual dengan cara fertilisasi.

b)        Koral batu atau batu kapur
Koral batu merupakan anggota Anthozoa yang memiliki kerangka tubuh terbuat dari bahan kalsium karbonat (CaCO3). Zat kapur tersebut disekresikan oleh lapisan epidermis. Hewan koral hidup secara berkoloni.
Hewan koral bereproduksi secara aseksual, yaitu dengan cara pembentukan tunas. Masing-masing tunas akan menyekresikan zat kapur sebagai kerangka tubuhnya. Koloni koral batu dapat berupa struktur bercabang-cabang 9misalnya, Acropora) atau berbentuk bulat dan berlekuk-lekuk ( misalnya, stylophora mordax).
Warna koloni hewan koral beraneka ragam, ada yang merah, biru, kuning, dan putih. Kerangka dari hewan koral dapat dipakai untuk bahan hiasan. Jika hewan koral mati, maka endapan kerangkanya dapat membentuk pulau karang atau terumbu karang (reef). Misalnya, membentuk karang atol (terumbu karang berbentuk cincin), terumbu barier ( terumbu karang penghalang), dan terumbu karang tepi ( terumbu karang pantai).
Hewan koral banyak ditemukan dikawasan antara 28o LU- 28o LS. Hewan tersebut hidup dengan baik pada kedalaman laut lebih kurang 35 m dengan suhu lebih kurang 20o C, kondisi air laut yang jernih dan banyak mengandung O2.

c.              Peran Coelenterata
            Kebanyakan Coelenterata menguntungkan manusia, contohnya ubu-ubur. Ubur-ubur dapat dimanfaatkan sebagai tepung ubur-ubur dan bahan kosmetik.
            Beberapa kerangka tubuh Coelenterata dapat membentuk karang pantai. Karang pantai bermanfaat untuk melindungi pantai dari hantaman ombak sehingga dapat mencegah arasi pantai. Dilaut karang atol dapat dimanfaatkan sebagai tempat persembunyian dan perkembangbiakan beberapa hewan laut. Beberapa kerangka tubuh Coelenterata lainnya dapat juga dimanfaatkan untuk hiasan, misalnya karang merah.
            Selain itu, beberapa jenis anemon laut yang hidup dilaut dangkal ikut berkontribusi dalam membentuk taman laut yang indah sehingga dapat dimanfaatkan sebagai objek wisata.

3.             Filum Platyhelminthes
Platyhelminthes merupakan kelompok cacing yang tubuhnya berbentuk pipih. Platy=pipih , helminthes=cacing.  Cacing pipih merupakan hewan triploblastik aselomata. Hewan ini tidak memiliki sistem peredaran darah dan respirasi. Alat pencernaannya tidak sempurna, hanya memiliki mulut dan tidak memiliki anus. Cacing pipih memiliki alat ekskresi berupa sel api. Pada bagian epidermis, terdapat silia. Sistem saraf terdiri atas sepasang ganglion anterior dan hewan ini bersifat hermafrodit.
Filum Platyhelminthes  dikelompokkan menjadi tiga kelas, yaitu
1.      Kelas Turbellaria (cacing bersilia/berbulu getar)
              Salah satu anggotanya yang paling dikenal adalah Planaria. Hewan ini biasanya hidup di air tawar dan melekat pada batu-batuan atau daun. Planaria memiliki panjang sekitar 2-3 cm. Planaria memiliki kepala berbentuk segitiga, memiliki dua bintik mata yang berfungsi membedakan intensitas cahaya, namun tidak dapat dikatakan sebagai alat penglihatan. System pencernaan makanan planaria sederhana, terdiri atas mulut, faring, kerongkongan dan usus. Planaria memiliki usus bercabang tiga, yaitu satu cabang kea rah anterior dan dua cabang ke arah posterior. Alat ekskresi berupa sel api, susunan sarafnya berupa sistem saraf tangga tali. Planaria bersifat hermafrodit, reproduksi seksual terjadi melalui proses fertilasi, sedangkan aseksualnya melalui fragmentasi. Planaria dikenal memiliki daya regenerasi yang tinggi. Jika dipotong-potong, maka setiap potongan tubuhnya akan tumbuh dan berkembang menjadi individu baru.

2.      Kelas Trematoda (cacing isap)
              Semua anggota kelas Trematoda hidupnya bersifat parasit. Beberapa contoh cacing Trematoda adalah:
a.       Fasciola hepatica
        Biasa hidup  sebagai parasit pada hati dari beberapa jenis hewan (seperti domba, kambing, sapi atau kerbau). Fasciola hepatica memiliki bentuk tubuh pipih, panjang nya antara 2-5 cm. pada bagian kepala terdapat dua alat isap, satu terdapat disekitar mulut dan yang lainnya di bagian ventral. Fungsi alat isap adalah untuk melekatkan tubuh pada inangnya. Diantara alat isap terdapat lubang kelamin. Alat ekskresi berupa sel api, system pencernaannya dimulai dari mulut, faring, kerongkongan, dan usus. Usus bercabang ke arah anterior dan posterior.
        Hewan ini bersifat hemafrodit, daur hidup cacing ini dapat terjadi ketika telur keluar bersama feses. Jika telur sampai ke air, maka telur berkembang menjadi larva bersilia yang disebut mirasidium, kemudian mirasidium berkembang menjadi redia dan serkaria, lalu serkaria berkembang menjadi metaserkaria.

b.      Clonorchis sinensis
        Merupakan cacing hati yang hidup pada manusia. Mereka bereproduksi seperti halnya Fasciola. Akan tetapi, fase metaserkaria dari cacing ini masuk ke dalam daging ikan air tawar (sebagai proses perantaranya). Jika manusia memakan ikan air tawar yang mengandung larva Clonorchis sinensis, maka metaserkaria akan masuk ke dalam tubuh dan tumbuh menjadi cacing parasit dewasa di dalam hati dan saluran empedu manusia.

c.       Schistosoma japonicum
        Disebut juga cacing darah karena dewasanya hidup pada pembuluh darah balik (vena) perut. Cacing ini kebanyakan hidup sebagai parasit pada manusia, kucing, anjing, babi, biri-biri, sapi dan binatang pengerat. Cacing jantan memiliki panjang tubuh 9-22 mm, sedangkan cacing betina berukuran 14-26 mm. cacing betina bertelur pada pembuluh darah vena sehingga dapat bermigrasi ke rektum (poros usus) dan kantong air seni. Selanjutnya, telur keluar melalui feses.
d.      Paragonimus westermani
        Paragonimus westermani dewasa hidup sebagai parasit pada paru-paru manusia, kucing, anjing dan babi. Larvanya hidup pada siput, sedangkan metaserkarianya menempel pada udang air tawar.     
3.      Kelas Cestoda (cacing pita)
          Meliputi kelompok cacing pita yang permukaan tubuhnya tertutup oleh kutikula. Tubuh terdiri atas rangkaian segmen-segmen yang  disebut proglotid. Setiap proglotid memiliki alat-alat reproduksi (ovarium dan testis). Cacing pita tidak memiliki saluran pencernaan makanan. Makanan diperoleh langsung dari hospesnya dengan jalan menyerap zat makanan. Susunan tubuh cacing pita terdiri atas kepala, leher, dan beberapa segmennya. Beberapa contoh cacing pita :
a.       Taenia solium
b.      Taenia saginata
c.       Diphyllobothrium latum
d.      Echinococcus granulosus

4.         Filum Nemathelminthes (Nematoda)
            Filum Nemathelminthes merupakan hewan triploblastik pseudoselomata, nemathelminthes berasal dari bahasa Yunani, nematos=benang dan helminthes=cacing. Jadi, nemathelminthes adalah kelompok cacing benang/cacing gillik, dimana permukaan tubuhnya ditutupi oleh lapisan kutikula.  
            Cacing gilik memiliki bentuk tubuh simetri  bilateral. Dinding tubuhnya terdiri atas tiga lapisan, yaitu ectoderm, mesoderm, dan endoderm. System pencernaannya berupa saluran berbentuk pipa lurus mulai dari mulut sampai ke anus. System saraf berupa cincin saraf yang dihubungkan dengan enam serabut saraf. Umumnya cacing gilik betina berukuran lebih besar dibandingkan cacing jantan, semua anggotanya bereproduksi secara seksual dan fertilisasi berlangsung secara internal. Contoh cacing gilik:
a.       Ascaris lumbriocoides
Cacing gilik ini disebut sebagai cacing perut dan cacing usus, panjang cacing betina mencapai 20-40 cm, kedua ujung tubuhnya meruncig. Tidak memiliki system pernapasan, pertukaran gas dilakukan melalui permukaan tubuh.
b.      Enterobius vermicularis
          Cacing ini dikenal sebagai cacing kremi, yang hidup sebagai parasit di dalam usus manusia hingga sampai ke anus


c.       Ancylostoma duodenale
Dikenal sebagai cacing tambang, dan hidup parasit di dalam usus dua belas jari. Panjang tubuh dapat mencapai 1 sampai 1,5 cm
d.        Wuchereria bancrofti
Cacing ini dikenal sebagai cacing filarial, penyebab filariasis atau kaki gajah.Penularan penyakit ini terjadi melalui gigitan nyamuk Culex yang mengandung larva microfilaria.
e.         Trichinella spiralis
Hidup parasit di dalam usus manusia, babi, dan tikus. Cacing ini dapat menyebabkan penyakit trichinosis.
f.          Heterodera radicicola
Cacing ini hidup parasit pada akar berbagai jenis tumbuhan sehingga sering dikenal sebagai cacing akar.
g.         Cacing Loa
Merupakan cacing parasit pada jaringan di bawah kulit manusia. Cacing loa dapat menyerang mata sehingga dikenal dengan cacing mata.

5.             Filum Annelida
            Kata annelida berasal dari bahasa yunani, yaitu annulus yang berarti gelang atau segmen. Jadi, Annelida adalah kelompok cacing yang tubuhnya bersegmen-segmen menyerupai cacing atau gelang.
a.              Ciri Filum Annelida
            Pada umumnya, semua anggota filum annelida memiliki tiga lapisan dinding tubuh, yaitu ektoderm, mesoderm, dan endoderm. Bagian mesoderm telah berkembang membentuk selom sehingga cacing ini disebut hewan triploblastik selomata. Dinding luar selom menempel pada ektoderm membentuk lapisan somatic, sedangkan dinding dalamnya menempel pada endoderm membentuk lapisan splangnik. Bentuk luar tubuh tampak memanjang, segmen-segmen tersusun seperti cincin. Setiap segmen bersifat metameri atau somit. Artinya, setiap segmen tubuh memiliki alat ekskresi, alat reproduksi, otot, pembuluh darah, dan sebagainya. Setiap segmen terkoordinasi dalam suatu sistem.
            Annelida banyak ditemukan di daerah tanah gembur dan tumpukan sampah tumbuh-tumbuhan. Mulut terdapat pada ujung anterior, sedangkan anus pada ujung posterior. Pada permukaan tubuh terdapat rambut ataun seta yang berfungsi sebagai alat gerak. Cacing ini memiliki sistem peredaran darah tertutup, sistem saraf, sistem pencernaan, sistem reproduksi, sistem ekskresi, dan sistem pernapasan.
            Annelida memiliki sistem sarf tangga tali ( sepasang ganglion otak dihubungkan oleh tali saraf longitudinal ). Sisa metabolism diekskresi melalui nefridium. Pernapasan dilakukan oleh seluruh permukaan tubuhnya. Anggota cacing ini ada yang bersifat hermafrodit dan ada juga yang bersifat gonokoris ( alat kelamin jantan dan betina terpisah atau terdapat pada individu yang berbeda ).

b.             Klasifikasi Filum Annelida
            Filum annelid dapat dikelompokan atas tiga kelas, yaitu polychaeta, olygochaeta, dan hirudenia.
1). Kelas polychaeta
            Nama kelas  polychaeta berasal dari kata poly =  banyak, chaeta = rambut atau seta. Jadi, polychaeta adalah kelompok cacing yang memiliki banyak rambut. Habibat cacing ini umumnya di laut. Panjang tubuh sekitar 5 sampai 10 cm dengan garis tengah 2 sampai 10 mm. warna tubuh beraneka ragam. Misalnya, berwarna merah, merah muda, hijau, atau warna campuran. Segmen-segmen pada tubuh hampir sama. Pada setiap segmen terdapat seta dan sepasang parapodia ( kaki berdaging ) yang brefungsi sebagai alat gerak.
            Anggota cacing ini memiliki sistem peredaran darah tertutup dan sistem saraf tangga tali. Sistem reproduksi cacing ini bersifat gonokoris. Polychaeta tidak memiliki klitelum. Pada ujung anteriornya terdapat kepala yang dilengkapi oleh alat sensoris.
            Polychaeta bereproduksi secara seksual. Pembuahannya biasa terjadi diluar tubuh. Setelah pembuahan, telur akan menetas menghasilkan larva trokofor. Selanjutnya, larva tersebut akan tumbuh menjadi cacing dewasa.
            Beberapa contoh polychaeta, anatara lain cacing papolo ( Eunice viridis ), cacing wawo ( lysidice oele ), nereis virens, dan arenicola. Cacing papolo banyak ditemukan hidup di laut kepulauan Fiji dan Samoa, sedangkan cacing wawo di laut Maluku. Kedua jenis cacing tersebut mudah ditangkap dan dapat dikonsumsi.

2). Kelas Oligochaeta
            Oligochaeta merupakan kelompok cacing bersegmen yang memiliki sedikit seta; oly = sedikit. Anggotanya yang paling dikenal adalah cacing tanah, yaitu Lumbricus terrestris dan pheretima sp. Pada umumnya, lumbricus terrestris berukuran besar dan banyak ditemukan di benua amerika dan eropa, sedangkan pheretima sp. Berukuran kecil dan banyak hidup di Indonesia.
            Cacing tanah dapat hidup di darat atau di air tawar. Tubuhnya bersegmen dan memiliki sedikit seta. Semua cacing tanah tidak memiliki parapodia. Mereka bergerak dengan otot longitudinal dan otot sirkuler. Cacing tanah memiliki 15 samapai 200 segmen. Pada segmen ( somit ) ke 32 hingga 37 ( pada lumbricus ) dan somit ke 10 hingga 11 ( pada pheretima ) terdapat penebalan kulit yang biasa disebut klitelum atau sadel yang mengandung kelenjar.
            Pada umumnya, cacing tanah bersifat hermafrodit. Cacing tanah dapat bereproduksi secara seksual. Akan tetapi, fertilisasi tidak dilakukan sendiri melainkan secara silang dengan melibatkan cacing lainnya. Dua cacing yang kawin saling menempel tubuhnya dengan ujung kepala berlawanan. Alat kelamin jantan mengeluarkan sperma dan diterima oleh klitelum cacing pasangannya. Pada saat bersamaan, klitelum mengeluarkan mukosa ( kelenjar ) kemudian membentuk kokon. Sperma bergerak ke alat reproduksi betina dan disimpan di reseptakel seminal. Ovum yang dikeluarkan dari ovarium akan dibuahi oleh sperma. Selanjutnya, ovum yang telah dibuahi masuk kedalam kokon. Telur bersama kokon akan lepas dari tubuh cacing dan menetas menjadi individu baru.
            Cacing tanah memiliki kepala berukuran kecil, tetapi tidak memiliki rahang, mata, atau alat peraba. Mereka hidup sebagai saprozoik. Pernapasan dilakukan oleh seluruh permukaan tubuh secara difusi. Cacing tanah memiliki sistem peredaran darah tertutup. Permukaan tubuh tertutup oleh lapisan kutikula. Cacing tanah dikenal memiliki daya regenerasi yang tinggi. Contoh anggota olygochaeta lainnya adalah aelosoma, nais, dan tubifex.

3). Kelas Hirudinea
            Nama kelas hirudinea berasal dari kata hirudo yang berarti lintah. Hewan ini hidup di air tawar, laut, dan darat. Tubuh lintah pipih dorsal ventral. Permukaan tubuh tertutup oleh kutikula yang disekresikan oleh epidermis. Lintah tidak memiliki seta dan parapodia. Hewan ini memiliki dua alat hisap, yaitu satu di bagian ujung anterior dan satu di ujung posterior ( berukuran lebih besar ).
            Lintah hidup sebagai ektoparasit temporer, yaitu hidup menempel sementara pada manusia atau mamalia lainnya untuk mengisap darah. Cairan tubuh atau darah yang diisap disimpan di dalam tembolok. Lintah bersifat hermafrodit.
            Anggota kelompok hewan ini meliputi lintah dan pacet. Lintah ( hirudo medicinalis ) dapat menghasilkan zat hirudin dan banyak hidup di eropa dan amerika. Pacet ( haemadipsa zeylanica ) banyak hidup di asia tenggara.

6.             Filum Mollusca
Nama filum mollusca  berasal dari bahasa latin, mollus berarti lunak. Jadi, mollusca adalah kelompok hewan bertubuh lunak. Mollusca termasuk hewan triploblastik.

a.              Ciri Filum Mollusca
Mollusca memiliki beberapa cirri, antara lain sebagai berikut.
1). Tubuh lunak, simetris bilateral, dan tidak memiliki segmen-segmen.
2). Memiliki mantel yang dapat membuat cangkang dari bahan CaCO3 dan kelenjar lendir.
3). Bersifat kosmopolit. Artinya, dapat dijumpai di berbagai tempat ( darat, air tawar, laut, daerah panas, sampai daerah dingin).
4). Memiliki sistem pencernaan, sistem peredaran darah, sistem ekskresi, ssitem saraf, sistem reproduksi, dan sistem otot. Alat-alat dalam tersebut dibungkus oleh mantel yang terbuat dari jaringan khusus.

b.             Klasifikasi Filum Mollusca
            Struktur tubuh mollusca sangat bervariasi. Oleh karena itu, anggota filum ini dapat dibedakan berdasarkan struktur kaki, cangkang, mantel, insang, simetri tubuh, dan sistem sarafnya. Filum mollusca dapat dibedakan menjadi lima kelas, yaitu Amphineura, Gastropoda, Pelecypoda, Scaphopoda, dan Cephalopoda.

1). Kelas Amphineura
Kelas Amphineura memiliki anggota lebih kurang 700 spesies. Tubuh bulat telur, pipih, dan simetris bilateral. Memiliki cangkang yang terdiri atas delapan kepingan kapur. Semua anggotanya hidup di laut, melekat pada batu-batuan dan banyak ditemukan di daerah pantai.
Pada bagian kepala terdapat mulut. Struktur mulut biasanya dilengkapi dengan radula, yaitu semacam lidah parut. Hewan ini tidak memiliki tentakel dan mata, tetapi memiliki kaki yang pipih.
Sistem saraf terdiri atas cincin sirkum esophagus, dua cabang sarafnya memberi pernapasan pada kaki dan mantel. Proses makan dimulai dari mulut dan berakhir di anus. Hewan ini memiliki kelenjar ludah dan kelenjar hati. Pada bagian posterior terdapat jantung, aorta, dan sebuah sinus. Darah memperoleh oksigen dan insang.
Amphineura bereproduksi secara seksual. Telur yang telah dibuahi oleh sperma akan tumbuh menjadi zigot dan menghasilkan larva trokofor. Salah satu contoh yang terkenal adalah kiton. Kiton memiliki bentuk tubuh elips. Kaki pipih terletak di permukaan ventral. Pada saluran mantel terdapat empat sampai delapan ktenidium, sejenis insang yang mirip sisir. Kiton hidup merayap pada dasar laut.

2). Kelas Gastropoda
            Nama kelas Gastropoda berasal dari bahasa yunani, gastos = perut, dan podos = kaki. Jadi, Gastropoda adalah kelompok hewan yang menggunakan perutnya sebagai kaki.
Gastropoda  dapat ditemukan di darat, air tawar dan laut. Tubuhnya mengalami modifikasi dari bentuk simetris bilateral menjadi bentuk membelit ( rotasi ). Kebanyakan anggota gastropoda memiliki cangkang. Contoh yang banyak dikenal adalah siput air tawar ( helix pomata ). Siput air tawar memiliki cangkang berbentuk kerucut terpilin dengan arah ke kanan atau ke kiri. Alat gerak hewan ini adalah otot perut yang berkontraksi secara bergelombang dari depan ke belakang sambil menghasilkan telur.
Pada bagian kepala gastropoda terdapat dua pasang tentakel. Sepasang tentakel ( berukuran pendek ) berfungsi sebagai alat pembau dan sepasang tentakel lainnya ( berukuran panjang ) berfungsi sebagai alat penglihat. Alat pernapasan pada saat larva berupa insang dan setelah dewasa berupa paru-paru.
Gastropoda memiliki peredaran darah terbuka. Jantung terdiri atas satu serambi dan satu bilik. Daerah berwarna biru karena mengandung zat hemosianin.
Pada umumnya, gastropoda tergolong hewan herbivore. Alat pencernaannya terdiri atas mulut dengan lidah parut ( radula ), gigi rahang, kerongkongan, kelenjar ludah, tembolok, lambung, kelenjar pencernaan ( hati yang melingkar ), usus dan anus. Alat ekskresi berupa nefridia ( ginjal ) dan saluran ureternya terletak di dekat anus. Pusat saraf memiliki sepasang ganglion dan empat tonjolan ganglion.
Gastropoda ada yang bersifat hermafrodit. Alat reproduksinya disebut ovotestis, ( dapat menghasilkan sperma dan ovum ). Contoh gastropoda demikian adalah bekicot ( achatina fulica ).
Beberapa contoh gastropoda antara lain siput vector fasciolosis ( lymnea trunchatula ), siput sawah ( lymnea javanica ), siput air tawar ( helix pomata ), bekicot ( achatina fulica ), sumpil ( melania testudinaria ), siput telanjang ( vaginula ), kreco ( vivipara javanica ), dan jenis gastropoda yang hidup di laut ( teredo navalis ).

3). Kelas Pelecypoda ( Lamellibranchiata atau Bivalvia )
Dinamakan pelecypoda karena hewan ini memiliki kaki yang pipih. Lamellibranchiata, karena memiliki insang berupa lembaran yang berlapis-lapis dan Bivalvia karena memiliki dua belahan cangkang. Contoh yang banyak dikenal adalah kerang air tawar ( anadonta ).
Pelecypoda memilki cangkang yang terdiri atas tiga lapisan, yaitu sebagai berikut :
a.       Periostrakum, lapisan terluar ( tipis ) yang tersusun dari zat tanduk atau zat kitin. Lapisan ini berfungsi sebagai lapisan pelindung.
b.      Prismatik, lapisan tengah yang terdiri atas kristal-kristal CaCO3 berbentuk prisma.
c.       Nakreas, lapisan mutiara atau lapisan paling dalam yang tersusun dari Kristal CaCO3 halus. Lapisan ini dihasilkan oleh seluruh permukaan mantel.

Di antara  cangkang dan mantel kadang-kadang dapat dimasuki oleh benda asing, misalnya pasir. Butir pasir tersebut dapat menjadi inti untuk pembentukan butir mutiara. Jenis tiram mutiara yang dapat menghasilkan mutiara berkualitas tinggi adalah pinctada margaritifera dan pinctada mertensi. Kedua jenis tiram ini biasa menghuni laut bersuhu panas di daerah pasifik dan Indonesia bagian timur.
Cangkang dapat menutup dengan bantuan otot transversal yang terletak pada akhir kedua ujung tubuh dekat dorsal. Otot di bagian anterior disebut otot adductor anterior, sedangkan otot di bagian posterior disebut otot adductor posterior.
Di dalam rongga antara mantel dan tubuh terdapat dua pasang insang, kaki, dan alat visceral. Mantel terdiri atas dua lapisan, yaitu lapisan yang membungkus bagian dorsal ( meliputi seluruh permukaan sebelah dalam cangkang ) dan lapisan yang membungkus bagian-bagian sebelah tepi.
Makanannya terdiri atas makhluk hidup renik yang terbawa air masuk ke dalam mulut melalui sifon ventral. Makanan masuk ke dalam tubuh melewati kerongkongan menuju lambung dan usus. Di sini zat makanan diserap, sedangkan sisanya keluar melalui anus.
Sistem saraf pelecypoda terdiri atas beberapa ganglion, yaitu ganglion kepala, di dekat kerongkongan lambung, ganglion pedal, di kaki, dan ganglion perut di sebelah bawah otot adductor posterior.
Pelecypoda  memiliki alat statosista ( alat keseimbangan ) yang terletak di  belakang ganglion pedal. Pada daerah tepi mantel terdapat sel-sel sensoris ( peka terhadap rangsangan ) yang terdapat pada sifon ventral.
Pelecypoda bereproduksi secara seksual, yaitu melalui pembuahan sel telur oleh sperma yang akan membentuk zigot. Zigot kemudian tumbuh menjadi larva, disebut glosidium yang selanjutnya tumbuh menjadi hewan baru. Pelecypoda kebanyakan bersifat gonokoris.
Contoh pelecypoda lainnya adalah kerang hijau ( mylitus viridis ), tiram ( ostrea sp.), remis ( buccinus sp.), kima ( tridacna gigas ), dan mercenaria.

4). Kelas Scaphopoda
Anggota hewan ini ada sekitar 200 spesies. Hidup di laut pada pantai berlumpur. Memiliki cangkang berbentuk seperti terompet atau tanduk. Ujung cangkang memiliki lubang dan mantel.


5). Kelas Cephalopoda
Nama kelas cephalopoda berasal dari kata cephalo = kepala, pados = kaki. Jadi, cephalopoda adalah kelompok hewan yang memiliki kaki di bagian kepala.
Cephalopoda hidup di laut. Anggota kelompok hewan ini dapat bergerak cepat ( berenang ) dengan cara menyemprotkan air melalui sifon. Cumi-cumi pada saat hendak mengejar mangsa dan menghindar dari kejaran musuh akan segera menyemprotkan air keluar dari rongga mantel sehingga tubuh terdorong ke depan. Sifon merupakan struktur otot terbentuk cerobong.
Pada bagian kepala cephalopoda terdapat delapan atau sepuluh kaki yang telah mengalami modifikasi menjadi lengan atau tentakel. Pada gurita terdapat delapan tentakel yang dilengkapi dengan bantalan pengisap pada bagian dasarnya. Pada cumi-cumi terdapat sepuluh tentakel, yaitu dua tentakel berukuran panjang yang memiliki alat pengisap dan delapan tentakel lainnya berfungsi sebagai lengan. Pada bagian kepala juga terdapat sepasang mata tanpa kelopak mata.
Cephalopoda dapat berubah warna secara cepat seperti halnya bunglon. Kemampuan berubah warna tersebut dimungkinkan karena adanya zat kromotofora pada sel-sel kulitnya. Oleh karena itu, hewan ini dikenal mampu berbaur secara efektif dengan latar belakangnya.
Pada umumnya, cephalopoda memiliki cairan tinta yang tersimpan di dalam kantong tinta. Cairan tinta biasa dikeluarkan jika hewan ini merasa terancam dan ingin terlepas dari pemburunya. Cairan tinta yang disemprotkan menyebabkan air menjadi keruh sehingga membingungkan musuh. Pada saat itu hewan ini melesat meninggalkan musuh.
Pada bagian kanan dan kiri tubuh terdapat sirip. Sirip merupakan bentuk perluasan tentakel yang berfungsi sebagai alat pendayung untuk bergerak ke depan dan ke belakang.
Cephalopoda memiliki alat pencernaan yang cukup kompleks. Alat pencernaan terdiri atas rongga mulut, kelenjar tubuh, faring, esophagus, lambung, usus, dan anus. Selain itu, hewan ini juga memiliki kelenjar pencernaan, yaitu hati dan pancreas.
Cephaloda memiliki sistem peredaran darah ganda dan tertutup. Darah berwarna biru dengan tembaga ( Cu ) sebagai intinya. Alat ekskresi berupa nefridia ( ginjal ) yang berbentuk segitiga, berwarna putih, dan terletak di sebelah selaput jantung.
Sistem saraf terdiri atas tujuh ganglion, yaitu ganglion serebral, pedal, visceral, suprabukalis, intrabukalis, stelata, dan optis. Ketujuh ganglion ini terletak di daerah kepala.
Cephalopoda berjenis kelamin terpisah ( gonokoris ). Reproduksi dilakukan secara seksual.
Beberapa contoh cephalopoda antara lain cumi-cumi ( loligo indica ), sotong ( sepia officinalis ), gurita ( octopus sp.), dan nautilus pompilus.
c.       Peran filum mollusca dalam kehidupan
            Mollusca ada yang dapat memberikan manfaat manusia, tetapi ada juga yang bersifat merugikan.
1.      Beberapa manfaat dari filum mollusca
a)      sebagai sumber bahan makanan atau sebagai sumber protein hewani. Sontohnya, kerang, cumi-cumi, beberapa siput air dan bekicot.
b)      Penghasil mutiara. Ada dua macam mutiara, mutiara alami dan mutiara buatan. Mutiara alami terbentuk karena benda asing, seperti pasir, masuk diantara cangkok dan mantelnya. Selanjutnya, benda asing terebut akan diselaputi oleh lapisan naklea sehingga membentu mutiara. Mutiara buatan terbentuk akibat kegiatan manusia yang dengan sengaja memasukkan benda asing pada lapisan diantara nakleas dengan rongga mantelnya.
c)      Sebagai bahan cindera mata dan hiasan diruma. Contohnya, berupa cangkang kerang yang sering dijadikaan untuk hiasan dinding, tirai jendela atau pintu, dan tempat perhiasan.
d)     Sebagai pupuk dan bahan makanan burung peliharaan. Contohnya, hancuran cangkang yang berasal dari kerang.
2.      Beberapa kerugian akibat filum mollusca
a)      Merusak berbagai tumbuhan, terutama tanaman budidaya. Contohnya, bekicot ( Achatina fulica ).
b)      Sebagai hewan perantara (vektor) dalam daur hidup cacing hati. Contohnya siput air ( Lymnea ).
c)      Merusak kayu. Contohnya, Teredo navalis
7.      Filum Arthropoda
            Arthropoda berasal dari kata arthros = ruas, podos = kaki. Jadi Arthropoda adalah kelompok hewan yang mempunyai kaki beruas-ruas. Arthropoda adalah fillum terbesar di kingdom animalia, arthropoda dapat ditemukan di air, darat, maupun di dalam tanah dan ada juga sebai parasit pada hewan dan tumbuhan.
a.              Ciri – ciri arthropoda
            Arthropoda adalah hewan triploblastik selomata, memiliki tubuh simetri bilateral terdiri atas kepala, dada, dan abdomen. Tubuh dibungkus zat kitin yang berfungsi sebagai rangka luar (eksoskeleton).
            Pada setiap ruas terdapat bagian yang tidak memiliki zat kitin sehingga dapat digerakan dan pada waktu tertentu arthropoda dapat mengalami pergantian kulit yang disebut eksdisis atau molting.
            Arthropoda memiliki sistem pencernaan yang sempurna yang dimulai dari mulut hingga berakhir pada saluran pengeluaran. Sistem peredaran darahnya terbuka darah berwarna biru karena adanya zat hemosianin.
            Arthropoda bernafas dengan trakea, ingsang, paru-paru buku, atau melalui permukaan tubuhnya. Sisa metabolisme diekskresi melalui zat malpigi yang bermuara ke usus. Reproduksi arthropoda pada umumnya secara seksual, tetapi ada juga yang aseksual yaitu dengan partenogenesis. Arthropoda bersifat gonokoris. Sistem syarafnya berupa tangga tali.

b.             Klasifikasi

            Berdasarkan persamaan dan perbedaan struktur tubuhnya, arthropoda dikelompokkan menjadi lima kelas, yaitu Crustaseae, Insecta, Arachnid, Diplopoda, dan Chilopoda.

Kriteria
Kelas
Crustaseae
Insecta
Arachnid
Diplopoda
Chilopoda
Tubuh
Kepala dan dada (sefalotoraks) dan perut (abdomen).
Kepala, dada, dan perut.
Sefalotoraks dan abdomen.
Kepala da badan yang bentuknya silindris.
Kepala dan badan memanjang agak gepeng
Kaki
Sepasang pada setiap ruas (lima pasang kaki pada toraks)
Tiga pasang pada dada (toraks)
Empat pasang pada sefalotoraks
Setiap ruas terdapat dua pasang kaki
Setiap ruas terdapat sepasang kaki
Sayap
Tidak ada
Ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Antena
Dua pasang
Satu pasang
Tidak ada
Satu pasang
Satu pasang
Alat Respirasi
Insang atau permukaan tubuh
Trakea
Paru-paru buku
Trakea
Trakea
Habitat
Air
Darat
Darat
Darat
Darat

1.      Kelas Crustacea

Crustaceae dikenal sebagai hewan akuatik karena sebagian besar hidup di air. Crustaceae yang hidup di laut sebagian besar yang hidup di lait adalah zooplankton. Ukuran tubuh crustacea bevariasi
a.       Ciri Kelas Crustacea
1)      Tubuh terdiri ataskepala dan dada yang tersusun menjadi satu (sefalotoraks) dan perut (abdomen)
2)      Kulit tersusun atas zat kitin dan kapur pada tiap ruas tubuh yang berfungsi sebagai eksoskeleton. Pada kepala dan dada terdapat kulit keras yang disebut karapaks.
3)      Memiliki dua pasang antena
4)      Memiliki satu pasang kaki pada setiap ruas tubuhnya.
5)      Bernafas dengan ingsang dan ada juga yang bernafas dengan permukaan tubuhnya.
6)      Alat ekskresi berupa sepasang badan yang disebut kelenjar hijau terletak di bagian ventral dari sefalotoraks di depan esofagus.
7)      Reproduksi secara seksual, jenis kelamin terpisah.
8)      Sistem syaraf berupa tali tangga.
9)      Alat pencernaan terdiri atas mulut, eksofagus, lambung, usus, dan anus.
10)  Sistem peredaran darah terbuka, darah tidak berwarna.
11)  Pada udang terdapat statusista (alat keseimbangan) yang terletak di dasar ruas pada masing-masing antenula.

b.      Klasifikasi Crustacea
Crustacea dibedakan menjadi dua subkelas, yaitu Entomostraca dan Malacostraca.
1)      Entomostraca
Merupakan jenis udang tingkat rendah yang serig menjadi sumber makanan ikan yang dikelompokkan menjadi beberapa ordo diantaranya :
a)      Branchipoda
Tubuh transparan, bergerak dengan antenna. Ukuran tubuhnya hanya beberapa millimeter hingga mencapai 10 cm. contohnya Daphnia dan Notostraca
b)      Ostracoda
Hidup dia air tawar dan laut. Bergerak dengan antenna. Ukuran tubuhnya hanya beberapa millimeter. Contohnya Candona dan Agrenocythere.
c)      Cepepoda
Hidup di air tawar, laut, dan ada juga yang hidup sebagai parasit atau hidup bebas. Contohnya, Cyclops (plankton) dan Penella (parasit)
d)     Cirripedia
Bentuk tubuhnya seperti kerang. Hidup bebas sebagai bernakel (teritip) dan ada juga yang hidup sebagai parasit. Habitatnya di laut. Contohnya, Sakkulina dan Lepas
e)      Branchiura
Hidup di air tawar dan laut. Kebanyakan hidup sebagai parasit. Kepala dan dada terlindungi karapaks. Contohnya, Argulus (parasit pada ikan)
2)      Malacostraca
Merupakan kelompok iklan tingkat tinggi yang meliputi tiga perempat jumllah jenis crustaceae yang banyak dikenal yang dikelompokkan menjadi beberapa ordo diantaranya :
a)      Isopoda
Anggotanya memiliku kaki berukuran sama atau seragam. Hidup di darat, air tawar, dan laut. Contohnya, Oniscus anelus.
b)      Stomatopoda
Hidup di laut. Bentuk tubuhnya seperti belalang sembah. Bagian kepala tertutup oleh karapaks. Contohnya, Squolla empusa.
c)      Dekapoda
Memiliki sepuluh kaki. Anggotanya meliputi udang dan kepiting. Tubuh udang terdiri ataas sefalotoraks (kepala dan dada) yang terdiri dari 13 ruas yang menyatu membentuk karapaks (eksoskeleton) dan abdomen (perut) yang memiliki enam ruas tubuh terpisah.
Pada dorsal terdapat lekukan melintang yang membagi sefalotoraks menjadi dua yaitu bagian depan (sefala atau kepala) dan bagian belakang (toraks atau dada) dan memupunya mata majemuk (mata faset) bertangkai. Mulut terdiri atas mandibula dan dua pasang maksial
Udang memiliki sepasang antena yang berfungsi sebagai alat keseimbangan dan antenula yang berfungsi sebagai alat peraba. Pada bagian torak terdapat lima pasang kaki jalan yang terdiri atas sepasang kaki capit (seliped) sebagai alat penjepit atau menangkap mangsanya dan empat pasng kaki jalan.
Pada setiap abdomen terdapat sepasang kaki renang. Pada bagian posterior tubuh terdapat bagian yang melebar yang disebut telson yang berfungsi sebagai alat keseimbangan dan pelindung telur.
Contoh dekapoda dari golongan udang, udang windu (Panaeus sp.) dan udang sotong (Palaemon sp.). Contoh dari golongan ketam adalah kepiting (Portunus sp.), ketam kenari (Birgus latro)

2.      Kelas Insecta
Insekta disebut juga heksapoda atau lebih dikenal sebagai serangga yang merupakan kelas terbesar dalam filum antropoda dan memiliki anggota lebih kurang 675.000 spesies.
a.       Ciri Kelas Insekta
1)      Tubuh dapat dibedakan dengan jelas antara kepala, daad, dan perut. Pada kepala terdapat antena, mulut dengan berbagai tipe, serta mata faset dan mata oselus. Beberapa tipe mulut serangga yaitu :
a)      Tipe mulut menggigit dan menusuk, contohnya nyamuk.
b)      Tipe mulut menghisap, contohnya kupu-kupu.
c)      Tipe mulut menggigit dan menjilat, contohnya lebah.
d)     Tipe mulut menggigit, contohnya belalang dan semut.
2)      Alat pencernaan memanjang, mulai dari mulut sampai anus. Pada mulut terdapat kelenjar lidah.
3)      Sistem peredaran darah terbuka. Serangga tidak memiliki pembuluh darah kapiler dan vena.
4)      Bernafas dengan sistem trakea, yaitu berupa saluran bercabang-cabang sampai pada semua bagian tubuh sebelah dalam. Oksigen yang masuk melalui spirakel atau ostium dapat langsung masuk ke jaringan.
5)      Alat ekskresi terdiri atas dua atau lebih pembuluh Malpighi.
6)      Sistem saraf tangga tali terdiri atas ganglion pada tiap-tiap ruas.
7)      Indra penglihatan berupa mata majemk (mata faset) yang tersusun dari omitidia dan mata tunggal (oselua). Pada antena terdapat indra pembau atau kemoreseptor.
8)      Jenis kelamin terpisah. Pembuahan terjasi di dalam tubuh. Proses pertumbuhan dari telur hingga sampai dewasa mengalami perubahan bentuk yang disebut metamorfosisi yang dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu :
a)      Serangga yang tidak mengalami metamorfosis (ametaboal). Telur menetas menjadi imago (dewasa). Contohnya, Lepisma.
b)      Serangga yang mengalami metamorfosis tidah sempurna (hemimetabola). Telur, nimfa (serangga kecil), imago (dewasa). Contohnya, jangkrik, belalang dan rayap.
c)      Serangga yang mengalami metamorfosis sempurna (holometabola). Telur, larva, kepompong, (pupa), imago (dewasa). Contohnya, kupu-kupu, lalat, lebah, dan nyamuk.


b.      Klasifikasi Insecta
Berdasarkan tipe sayap, mulut dan metamorfosisnya serangga dapat dibagi menjadi dua subkelas, yaitu :
1)      Subkelas Apterygota
Merupakan kelompok serangga tak bersayap dan tak bermetamorfosis. Pada hewan ini batas antara kepala, dada, dan perut tidah jelas. Tipe mulut menggigit. Contohnya, kutu buku (Lepisma sacharima)
2)      Subkelas pterygota
Merupakan kelompok serangga yang memiliki sayap yang berupa penonjolan ke arah luar dari dinding tubuh (eksopterigota) atau penonjolank kearah dalam dari ektoderma (endopterigota). Subkelas ini dapat diikelompokkan dalam beberapa ordo yaitu :
a)      Ordo Isoptera atau Archiptera
Berasal dari kata iso = sama; pteron = sayap, jadi Isoptera adalah kelompok serangga yang memiliki sayap yang sama, yaitu berupa dua pasang sayap yang tipenya dan ukurannya sama yang termasuk eksopterigota. Contohnya rayap (helanithermis sp.)
b)      Ordo Orthoptera
Berasal dari kata orthos = lurus;  pteron = sayap dan temasuk eksopterigota dan memilki tipe mulut menggigit. Orthoptera memiliki dua pasng sayap. Sayap bagian depan tebal disebut parkema, sedangkan sayap bagian belakang tipis. Orthoptera memiliki tiga pasang kaki; sepasang kaki belakang berukuran lebih besar dan kuat. Contohnya, belalang sembah (Mantis religiosa), lipas (Periplaneta), belalang daun (Phyllium cruzifolium), dll.
c)      Ordo Hemiptera
Berasal dari kata hemi  = setengah,  pteron = sayap, serangga ini termasuk eksopterigota. Hemiptera memiliki dua pasang sayap. Sayap bagian depan lebih tebal dan mengandung zat tanduk pada bagian dasarnya, sedangkan sayap belakang berupa membran yang terlipat di bawah sayap depan. Anggota ordo ini memiliki tipe menusuk dan menghisap. Contohnya, walang sangit (Leptocorisa acuta), kutu busuk (Cimex rotundastus), dll
d)     Ordo Homoptera
Meliputi serangga yang memiliki sayap berukuran sama, yaitu sayap depan dan belakang, memiliki tipe mulut menusuk. Contohnya, wereng hijau (Nephotetix apicalis), kutu daun (Aphis sp.), dll.
e)      Ordo Odotana
Memiki tubuh memanjang. Dua pasang sayap tampak seperti lembaran tipis dengan anyaman jala. Perut panjang dan bulat. Odonata memiliki mata faset yang besar. Contohnya  capung.
Kelima ordo diatas mengalami metamorfosis tidak sempurna.
f)       Ordo Coleptera
Memiliki bentuk sayap perisau dan memiliki tipe mulut menggigit. Memiliki dua pasang sayap. Sayap depan tebal dan keras karena mengandung zat tanduk, disebut elitra. Sebaliknya sayap belakang memiliki strutur tipis, berupa selaput. Contohnya, kumbang penyelam (Dytiscum sp.), kunag-kunang (Lampyris sp.) dll.
g)      Ordo Neuroptera
Serangga ini memiliki dua pasng sayap tipis dan banyak urat seperti jala. Anggotanya termasuk endopterigota dan memiliki tipe mulut menggigit. Contohnya, Myrmeleon frontalis dan undur-undur (Chsysopa sp.)
h)      Ordo Lepidoptera
Memiliki dua pasang sayap yang tipis dan bersisik dengan warna yang beraneka ragam dan menarik. Pada saat beristirahat kedua sayao akan tegak lurus terhadap bidang yang dihinggapi.
Saat dewasa ordo ini memiliki tipe mulut menghisap, sedangkan pada tahap larvanya memiliki tpe mulut menggigit. Mulut memiliki belalai (probosis). Contohnya, kupu-kupu pastor (Papillio memnon), kupu-kupu gajah (Attacus atlas), dll.
i)        Ordo Diptera
Memiliki dua pasng sayap, tetapi hanya satu pasang yang berfungsi, yaitu sayap depan yang tampak transparan dengan pembuluh darah, sepasang sayap belakang berubah mmenjadi suatu bentuk bulatan yang disebut helter dan tidak berfungsi lagi sebagai sayap.
Diptera memiliki tipe mulut menjila, tetapi ada juga yang memiliki tipe mulut menusuk dan menghisap. Contohnya, Anopheles sp., Aedes sp., dll.
j)        Ordo Hymnoptera
Memiliki dua pasang sayap yang tipis, sayap depan lebih besar daripada sayap belakang. Memiliki tipe mulut menggigit dan menghisap, tetap ada juga yang bertipe mnggigit saja. Contohnya, semut hitam (Monomorium sp.), lebah madu (Apis indica), dll.
k)      Ordo Siphonoptera
Berasal dari kata siphon = penghisap; pteron  = sayap. Serangga ini memiliki tubuh pipih, tidak bersayap, memiliki kaki yang sangat kuat dan memiliki tipe mulut menusuk dan menghisap. Contohnya, pijal pad manusia (Purex irritans), dll
Serangga diatas dikenal sebagai kelompok holometabola.

3.      Kelas Arachnid
Arachnid berasal dari kata arachne = laba-laba. Anggotanya meliputi kaljengking, laba-laba, dan tungau.
a.       Ciri kelas Arachnid
1)      Tubuh terdiri ats sefalooraks dan abdomen.
2)      Memiliki empat pasang kaki pada bagian sefalotoraks.
3)      Memiliki dua pasang alat mulut, yaitu :
a)      Sepasang kelisera, berfungsi untuk melumpuhkan mangsanya.
b)      Sepasang pedipalpus, berfungsi untuk menangkap dan memegang mangsanya.
4)      Hidup di darat, ada yang hidup sebagai parasit.
5)      Memiliki delapan mata. Tidak memiliki antena.
6)      Alat pernapasan berupa paru-paru buku, alat ekskresi berupa pembuluh Malpigi, dan alat pencernaan dimulai dari mulut hingga anus.
7)      Sistem saraf terdiri atas ganglion otak dan simpul saraf yang terjulur ke seluruh tubuh.
8)      Jenis kelamin terpisah, pembuahan secara internal.
b.      Klasifikasi Arachnid
Kelas Arachnid ddapat dikelompokkan atas tiga ordo, yaitu :
1)      Scorpionida
Ordo ini meliputi segala macam golongan kala. Abdomennya bersegmen dan panjang, pada segmen terakhir berubah bentuk menjadi alat sengat. Memiliki pedipalpus (berbentuk seperti catut) dan kelisera. Contohnya, kalajengking (Thelyphonussp.) dan ketungging (bhutus afer)
2)      Aranea
Ordo ini meliputi bangsa laba-laba. Abdomennya tidak bersegmen. Pada bagian ventral abdomennya (didepan anus) terdapat spineret, yaitu alat khusus yang dapat mengeluarkan benang-benang sutra. Benang sutra berguan untuk membuat sarang, jaringan penangkap mangsa, dan membentuk kokon. Contohnya, laba-laba pemburu (Heteropoda vennatoria), dll
3)      Acaria
Meliputi jenis laba-laba yang bersifat parasit. Misalnya tungau atau caplak. Tubuhnya berukuran kecil dan tidak bersegmen. Abdomennya bersatu dengan sefalotoraks. Bernafas melalusi seluruh permukaan tubuhnya. Contohnya, caplak

4.      Kelas Diplopoda
Sering disebut juga hewan berkaki seribu atau milipeda. Kelompok ini memiliki banyak segmen. Tubuh berbentuk bulat panjang (silindris) dan beberaapa segmen tubuh menyatu. Pada setiap segmen terdapat dua pasang kaki.
Diplopod hidup di tempat-tempat gelap dan lembab. Hawan ini hidup sebagai herbivora dengan makanan utamanya berupa tumbuhan yang telah membusuk.
Alat pernafasan diplopoda berupa trakea yang tidak bercabang-cabang. Hewan ini memiliki jantung berupa pembuluh dengan ostia di sebelah samping. Alat ekskresinya berupa pembuluh malpigi.
Gerakan diplopoda sangat lambat. Beberapa jenis diantaranya dapat menggulung diri membentuk struktur seperti spiral atau bola. Alat kelaminnya terpisah dan bereproduksi secara seksual. Pada hewan jantan, dua pasang kaki di segmen ketujuh mengalami modifikasii membentuk alat kopulaasi (alat kawin).

5.      Kelas Chilopoda
Anggota kelas ini sering disebut hewan berkaki seratus atau sentipeda. Tubuh berbentuk piph, memanjang, serta berdegmen-segmen. Pada setiap segmen terdapat sepasang kaki, kecuali pada segmen di belakang kepala. Pada bagian tersebut terdapat maksilaris, yaitu cakar kacun yang berfungsi untuk membunih mangsanya.
Chilopoda hidup di darat atau di baeah bebatuan. Hidup sebagai hewan buas (karnivora) yang dapat bergerak cepat dengan menggunakan kaki yang banyak.
Kelompok ini bernaafas dengan trakea yang bercabang-cabang ke seluruh jaringan tubuh. Lubang trakea terdapat pada tiap-tiap segmen. Alat ekskresinya berupa ssaluran malpigi.
Pada bagian kepala terdapat antena panjang. Alat pencrnaannya cukup berkembang. Chilopoda memiliki rahang yang kuat dan gigitan yang berbisa. Heawn ini bereproduksi secara seksual dengan pembuahan secara internal. Contohnya, kelabang atau lipan (Scolopendra heros) dan kelabang yang beracun berbahaya (Lithobius forficatus).
c.              Peranan
Arthopoda ada yang dapat memberikan manfaat bagi manusia, tetapi ada juga yang mendatangkan kerugian.
1.      Beberapa manfaat dari Filum Arthopoda
a.       Sebagai sumber makanan yang mengandung protein dan komoditi ekspor. Conthnya, udang dan kepiting.
b.      Membantu penyerbukan tanaman. Contohnya, kupu-kupu dan tawon.
c.       Menghasilkan madu. Contohnya, lebah madu.
d.      Menghasilkan benang sutra. Contohnya, ulat sutra dari jenis kupu-kupu.
2.      Beberapa kerugian akibat dari Filum Arthopoda
a.       Parasit pada manusia, hewan, dan tanaman budi daya. Contohnya, hewan dari kelompok Acarina (tungau/caplak)
b.      Parasit pada tikus yang dapat menularkan penyakit pes. Contohnya hewwan dari kelompok Acarina.
c.       Mencemari aira dan merusak kayu bangunan. Contohnya, bernakel () dan Helmithermus sp. (Arthropoda).

8.             Filum Echinodermata
Nama filum Echinodermata berasal dari kata Yunani, echinos = duri; dermal = kuli. Jadi, Echinodermata adalah kelompok hewan yang memiliki kulit berduri. Echinodermata termasuk hewan tripoblastik selomata. Semua anggota hewan ini hidup di laut.
a.              Ciri Filum Echinodermata
            Bentuk tubuh dewasanya adalah simetris radial, sedangkan larvanya berupa simetris bilateral. Larva dapat berenang bebas yang disebut bipinaria.kulitnya tediri atas lempeng-lempeng kapur dengan duri-duri kecil pada permukaanya.
            Echinodermata merupakan hewan pemakan sampah di laut sehingga laut menjadi bersih. Pergerakannya dengan sistem ambulakral (sistem pembuluh air). Mereka memiliki kaki buluh yang disebut kaki ambulakral.
            Saluran pencernaan sederhana, ada beberapa jens yang tidak memiliki anus. Sistem saraf dengan batang cincin yang bercabang-cabang ke arah radial. Secara evolusi, echinodermata memiliki hubungan kekerabatan yang lebih dekat dengan chordata dibandingkan dengan invertebrata lainnya.

            Pada sistem ambulakral terdapat bagian-bagian sebagai berikut.
1.      Madreporit, berupa lubang sebagai tempat masuk dan keluarnya air.
2.      Saluran batu, saluran yang menghubungkan adreporit dengan saluran cincin.
3.      Saluran cincin, saluran yang melngkari mulut.
4.      Saluran radial, cabang saluran cincin yang terdapa pada tiap lengan.
5.      Saluran lateral.
6.      Kaki ambulakral
7.      Gelembung otot atau disebut ampula.

b.             Klasifikasi Filum Echinodermata
Echinodermata dapat dikelompokkan atas lima kelas, yaitu Asteroida, Echinoidea, ophiuroidea, crinoidea, dan holothuroidea.
1.      Kelas Asteroidea (bintang laut)
                        Tubuh berbentuk bintang dengan lima lengan.permukaan tuuh bagian bawah dianggap sebagai permukaan oral karena terdapat mulut, sedangkan permukaan atas disebut aboral dan terdapat anus. Pada bagian aboral  terdapat madreporit dan lubang kelamin.
                        Bintang laut memiliki duri-duri berukuran pendek dan tumpul. Di sekitar dasar duri terdapat modifikasi duri yang disebut pediselaria, berupa penjepit. Bagian tubuh tersebut berfungsi untuk melindung insang dermal, menangkap makanan, dan mencegah serpihan-serpihan dan akhluk kecil agar tidak tertmbun dipermukaan tubuh.
Di sepanjang lengan terdapat laki-laki ambulakral. Lengan tersebut dapat dilenturkan oleh otot berserabut yang terdapat di dalam dinding tubuh. Pembuluh kaki juga dilengkapi dengan otot berserabut.
                        Sistem pencernaan terdiri atas mulut, kerongkongan, perut, usus, dan anus. Usus bercabang-cabang dan setiap lengan memiliki satu cabang.
            Sistem eksresi bintang laut dilakukan oleh amebosit yang terdapat dalam cairan selom. Zat-zat sisa keluar melaui dinding brankia (insag) kulit.
                        Respirasi terjadi pada brankia kulit dilengkapi oleh silia. Pertukaran oksigen dan karbon dioksida terjadi pada saat cairan masuk ke dalam brankia.
                        Jenis kelamin bintang laut terpisah, yaitu jantan dan betina. Alat reproduksi bercabang-cabang. Pada masing-masing lengan terdapat dua cabang yang berada di bagian dasar pertemuan lengan. Fertilisasi sperma dan ovum terjadi di dalam air (membentuk zigot) kemudian tumbuh menjadi larva bipinaria.
                        Sistem saraf terdiri atas batang saraf radial pada masing-masing lengan yang menjulur di atas alur ambulaklar. Beberapa contoh bintang laut, antara  lain bintang laut merah  (Asterias sp.), bintang laut biru (Lincia sp.), dan Cullitin sp.

2.      Kelas Echinoidea ( landak laut)
Semua anggota kelas Echinoidea memiliki bentuk bunar, tidak berlengan, dan memilki duri-duri yang dapat digerakkan. Mereka  memiliki pediselaria, yaitu duri-duri yang benuknya seperti catut. Landak laut memiliki mulut di daerah oral yang dikelilingi oleh lima gigi yang kuat dan tajam. Gigi tersebut  disokong oleh lima rangka samping, disebut lentera aristoteles. Bagian ini berfungsi untuk mengambil makanan.
Anus, madrepoit, dan lubang kelamin landak laut terletak di permukaan aboral. Reproduksi secara seksual. Fertilisasi sperma dan ovum terjadi di air (membentuk zigot) kemudian tumbuh menjadi larva plutea.
Pergerakan landak laut dilakukan dengan menggunakan kaki amblukral yang pendek-pendek dan dibantu oleh duri-duri yang panjang. Bersamaan dengan gerakan itu sia-sia makanan dikeluarkan melalui anus.
Beberapa jenis landak laut hidup di sela-sela bebatuan di pantai, di bawah rumput laut, dan ada juga yang membenamkan diri dalam tanah di sekitar daerah muara sungai. Beberapa contoh landak laut, antara lain bulu babi jarum (Diodema setosum), bulu babi bentuk jantung (echinos esculentus), bulu babi bentuk cakram (Echinos discus), bulu babi bentuk jantung (Echinos cardium), Tripneustes gratilla, Heterocentrotus mammillatus, dan Arbacia punctulata..

3.      Kelas Ophiuroidea  (Bintang Ular)
Bintang ular memiliki tubuh berbentuk bola cakram kecil dengan lima lengan atau kelipatannya. Tiap-tiap lengan memiliki ruas-ruas yang sama besar. Pada bagian lateral terdapat duri, sedangkan pada bagian dorsal dan ventralnya tidak memiliki duri.
Pada lengan bintang ular terdapat kaki ambulaklar kecil yang sering disebut tentakel. Tentakel terletak secara ventrolateral dengan alat isap (ampula). Di dalam lengan terdapat saluran selom kecil, batang saraf, pembuluh darah,  dan cabang-cabang sistem vaskuler.
Mulut terletak pada bagian tengah tubuh dikelilingi oleh lima kelompok lempeng kapur yang berfungs sebagai rahang. Lambung berbentuk kantong dan tidak memiliki anus. Makanan yang tdak tercerna dikeluarkan kembali ke mulut. Madreporit terletak di daerah permukaan dekat mulut. Di sekitar mulut terdapat lima pasang kantong kecil bercelah yang berfungsi sebagai alat respirasi.
Bintang ular memiliki daya regenerasi tinggi.jika lengannya putus, maka lengan baru daat segera tumbuh. Bintang ular dapat berpindah tempat dengan gerakan mengular, memegang suatu objek dengan satu lengan atau lebih kemudian menghentakkannya. Selain itu, hewan ini juga dapat berenang dengan menggunakan lengannya.
Bintang ular memiliki kelamin yang terpisah. Reproduksinya dilakukan secara seksual dengan melepaskan sel kelamin ke dalam air sehingga terjadi pembuahan. Hasil pembuahan tersebut akan tumbuh menjadi larva mikroskopis bersilia yang disebut pluteus. Selanjutnya, larva pluteus akan mengalami metamorfosis hingga akhirnya terbentuk bintang ular. Beberapa contoh bintang ular, antara lain Ophioppholis aculeata, Ophioplocus sp., dan Gorgonocephalus sp.


4.      Kelas Crinoidea (Lilia Laut)
                        Hewan yang termasuk lilia laut memiliki bentuk tubuh seprti bunga lilia, bunga bakung, atau seperti bulu burung. Hidup di laut sampai kedalaman 3.684 m.
            Memiliki lengan yang panjang menyerupai daun, disebut pinula. Pinula berjumlah lima atau kelipatannya. Beberapa jenis lilia laut ada yang memiliki tangkai yang berasal dari daerah aboral. Tangkai digunakan sebagai alat melekatkan diri pada dasar laut. Antendon tenella adalah jenis lilia laut yang tidak memiliki tangka, tetapi memiliki sirus (bulu kasar) yang lentur untuk memegang objek.
                        Mulut lilia terletak di daerah oral pada bagian atas tubuh dan dikelilingi oleh sirus. Makanan ditangkap oleh tentakel yang selanjutnya masuk ke dalam mulut. Mulut dan anus terletak sebelah-menyebelah. Anusnya berbentuk tabung seperti kerucut.
                        Pada bagian oral, setiap lengan lilia laut memiliki lekukan ambulaklar yang ditandai dengan garis bersilia dan berisi tentakel-tentakel seperti kaki buluh. Lilia laut tidak memiliki madreporit. Sistem sarafnya terdiri atas pusat saraf (berbentuk cincin) dan cabang-cabang saraf pada setiap lengan.
                        Lilia laut memiliki daya regenerasi yang tinggi. Reproduksi hewan ini dilakukan secara seksual dan pembuahan berlangsung di luar tubuh. Pada beberapa jenis lilia laut, telurnya tetap menetap pada pinula sampai  menetas. Telur menetas menghasilkan larva muda yang tidak memiliki mulut. Setelah beberapa hari larva tersebut akan menempel dengan menggunakan bagian anteriornya. Pada perkembangan berikutnya tumbuh lengan-lengan baru.
                        Pada tubuh lilia laut banyak terdapat makhluk hidup komensal dan parasit,  terutama dari kelompok polchaeta. Beberapa contoh lilia laut antara lain Antendom sp., Metacrinus, lilia laut tidak bertangkai (Holopus), dan lilia laut dengan lima lengan atau kelipatannya (Ptilocrinus pinnatus).

5.      Kelas Holothuroidea (Mentimun laut atau Teripang)
                        Mentimun laut memiliki bentuk tubuh lunak, memanjang dengan garis oral ke aboral sebagai sumbu. Kulit tubuh terdiri atas kutikula yang menutupi epidermis tidak bersilia. Di bawah kutikula terdapat dermis yang mengandung osikula, selapis otot melingkar, dan lima berkas otot memenjang ganda. Mentimun laut dapat bergerak dengan cara memenjang dan memendekkan ototnya. Tubuh tidak memiliki lengan.
                        Pada bagian anterior (di sekitar mulut ) terdapat 10 sampai 30 tentakel. Saluran pencernaan makanan berbentuk bulat panjang, merentang di atas tubuh dalam rongga selom. Makanan masuk melalui mulut, esofagus, lambung, usus yang dihubungkan dengan kloaka, dan berakhir pada anus (posterior.
                        Pada tubuh mentimun laut terdapat dua saluran yang bercabang-caang yang merupakan perluasan kloaka ke dalam selom. Adanya otot kloaka memungkinkan air dapat dipompa masuk dan keluar ke saluran tersebut. Sebagian air dalam saluran dapat menyebabkan selom tetap tegar. Saluran tersebut berfungsi sebagai alat respirasi dan ekskresi.
                        Sistem saluran air meliput madreporit ( dalam selom), saluran cincin /9di sekitar kerongkongan), dan lima saluran radial berhubungan denga kaki berotot yang fungsinya untuk bergerak.
                        Sistem peredaran darahnya lebih jelas jika dibandingkan dengan anggota filum Ehinodermata lainnya. Sistem saraf berbentuk cncin yang mengelilingi kerongkongan dan selanjutnya bercabang  ke saluran radial.
                        Jenis kelamin mentimun laut terpisah, kecuali beberapa jenis yang bersifat hermafrodit. Eproduksi dilakukan secara seksal. Pembuahan ovum oleh sperma akan menghasilkan zigot dan tumbuh menjadi larva aurikularia. Selanjutnya, larva akan tumbuh menjadi mentimun laut dewasa.
                        Mentimun laut biasanya hidup di dasar laut atau mengubur diri di dalam lumpur atau pasir. Jika diganggu, maka tubuhnya akan mengerut. Anggota hewan tersebut juga memiliki daya regenerasi yang tinggi.
                        Habitat mentimun laut adalah di dasar laut yang dangkal. Pergerakannya dilakukan dengan kaki ambulaklar bagian ventral. Kaki ambulaklar juga berfungsi sebagai alat pernapasan sehingga disebut juga paru-paru air. Beberapa contoh mentimun laut antara lain teripang (Holothuria atra), Stichopus sp., Bathlotes sp., Cucumaria sp., dan psolus sp.

c.              Peran Filum Echinodermata dalam Kehidupan
Pada umumnya, filum echinodermata kurang memiliki nilai ekonomi. Namun, beberapa jenis dari anggota filum ini dapat dimanfaatkan sebagai makanan (kerupuk teripang) dan sebagai barang hiasan (kerangka bintang laut).
Echinodermata sangat bermanfaat dalam ekosistem laut. Anggota hewan ini berperan sebagai pemakan bangkai-bangkai di laut sehingga dapat mmbantu dalam menjaga kebersihan laut.

9.             Filum Chordata
Hanya sedikit sekali dari anggota filum chordata yang memiliki notokorda yang tidak tergantikan dengan tulang punggung. Lanselet dan tunikata merupakan dua contoh hewan yang tergolong kordata invertebrata.
Lanselet (lanset) masuk ke dalam subfilum Cephalochordata. Kelompok hewan tersebut memiliki notorkoda di sepanjang ekor hingga kepala. Anggotanya ada sekitar 23 spesies. Tubuh lanselet umumnya berukuran kecil dengan panjang tubuh hanya beberapa sentimeter. Disebut lanselet karena bentuk hewan tersebut mirip pisau bedah bermata dua sisi dan berujung runcing.
Tunikata masuk dalam subfilum Urochordata yang terdiri atas 1.250 spesies. Hewan tersebut hidup di dasar laut dan memiiki tunik (selubung) yang membuat tubuh mereka seperti dinding tebal atau kantong yang pendek dan gemuk. Tunikata juga disebut hewan penyemprot laut karena dapat menyemprotkan air ketika mereka merasa terganggu.
a.             Ciri-ciri Chordata :
·           Memiliki notokorda pada masa embrionik, yaitu sumbu penyongkong tubuh primer
·           Memiliki celah faring atau celah insang pada beberapa tahap selama masa perkembangannya
·           Memiliki tali saraf dorsal
·           Memiliki ekor, paling tidak pada masa embrionik

BAB III
PENUTUP
2.1    Kesimpulan

Kesimpulannya berdasarkan tujuannya bahwa di dalam filum invertebrata terdapat pengelompokkan filum-filum yaitu porifera, coelenterata, platyhelminthes, nemathelminthes, annelida, mollusca, antrhopoda, dan  echinodermata yang memiliki beberapa kelas di dalamnya. Dan tiap kelas memiliki ciri dan klasifikasi masing-masing.


2.2    Saran
            Melalui penulisan makalah ini, diharapkan kepada pembaca dapat memahami sedikit penjelasan tentang filum invertebrata dan diharapkan untuk mencari informasi-informasi lain dari berbagai sumber untuk benarnya informasi yang didapatkan.










DAFTAR PUSTAKA
Sudjadi, Bagod. 2007. Biologi 1. Jakarta : Yudhistira.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar