Senin, 18 November 2013

Pengertian Pendekatan CBSA




A.   Pengertian Pendekatan CBSA

1.      Latar belakang

     Penyelenggaraan pembelajaran merupakan salah satu tugas utama guru, dimana pembelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan yang ditujukan untuk membelajarkan siswa. Untuk dapat membelajarkan siswanya, salah satu cara yang dapat ditempuh oleh guru ialah dengan menerapkan pendekatan CBSA dan Pendekatan Keterampilan Proses (PKP) dalam proses pembelajaran. Baik CBSA maupum PKP, merupakan pendekatan pembelajaran yang tersurat dan tersirat dalam kurikulum yang berlaku
     Anda sebagai seorang calon guru, tentunya berkepentingan untuk mengetahui apa dan bagaimana Cara Belajar Siswa Aktif itu serta apa dan bagaimana pula PKP. Sebagian calon tenaga profesional, anda tentu bertanya mengapa CBSA dan PKP.

2.      Permasalahan
·         Apa itu pendekatan CBSA ?
·         Mengapa pendekatan CBSA itu penting ?
·         Faktor-faktor apa saja yang harus dimiliki seorang siswa untuk belajar aktif ?


3.      Isi
·         Pengertian Pendekatan CBSA
     Pada umumnya metode lebih cenderung disebut sebuah pendekatan. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan kata “approach” yang dimaksudnya juga “pendekatan”. Di dalam kata pendekatan ada unsur psikhis seperti halnya yang ada pada proses belajar mengajar. Semua guru profesional dituntut terampil mengajar tidak semata-mata hanya menyajikan materi ajar. Guru dituntut memiliki pendekatan mengajar sesuai dengan tujuan instruksional. Menguasai dan memahami materi yang akan diajarkan agar dengan cara demikian pembelajar akan benar-benar memahami apa yang akan diajarkan. Piaget dan Chomsky berbeda pendapat dalam hal hakikat manusia. Piaget memandang anak-akalnya-sebagai agen yang aktif dan konstruktif yang secara perlahan-lahan maju dalam kegiatan usaha sendiri yang terus-menerus.

     Setiap proses pembelajaran pasti menempatkan keaktifan orang yang belajar atau siswa. Pernyataan ini tidak dapat kita bantah atau kita tolak kebenarannya. Adanya kenyataan ini, menyebabkan sulitnya mendefinisikan pengertian pendekatan CBSA secara tepat. Kepastian adanya keaktifan siswa dalam setian proses pembelajaran, memberikan kepastian kepada kita bahwa pendekatan CBSA bukannlah suatu yang dikotomis. Hal ini berarti, setiap peristiwa pembelajaran yang diselenggarakan oleh guru dsapat dipastikan adanya penerapan pendekatan CBSA dan tidak mungkin tidak terjadi penerapan pendekatan CBSA dalam pembelajaran.

     Pendekatan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) menuntut keterlibatan mental siswa terhadap bahan yang dipelajari. CBSA adalah pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif terlibat secar fisik, mental, intelektual, dan emosional dengan harapan siswa memperoleh pengalaman belajar secara maksimal, baik dalam ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor. Pendekatan CBSA menuntut keterlibatan mental vang tinggi sehingga terjadi proses-proses mental yang berhubungan dengan aspek-aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Melalui proses kognitif pembelajar akan memiliki penguasaan konsep dan prinsip. Konsep CBSA yang dalam bahasa Inggris disebut Student Active Learning (SAL) dapat membantu pengajar meningkatkan daya kognitif pembelajar. Kadar aktivitas pembelajar masih rendah dan belum terpogram.  Akan tetapi dengan CBSA para pembelajar dapat melatih diri menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepada mereka. Tidak untuk dikerjakan di rumah tetapi dikerjakan dikelas secara bersama-sama.
     Titik fokus kajian dalam Pendekatan CBSA adalah keaktifan pebelajar dalam proses pembelajaran, namun bukan berarti bahwa pihak lain yang terlibat dalam proses pembelajaran tersebut, utamanya guru, tidak perlu aktif. Dengan demikian, Pendekatan CBSA menekankan keaktifan semua pihak yang terlibat dalam proses pembelajaran tersebut, dengan pengertian “ ….. keaktifan dalam rangka CBSA menunjuk kepada keaktifan mental, meskipun untuk mencapai maksud ini dalam banyak hal dipersyaratkan keterlibatan langsung dalam pelbagai bentuk keaktifan fisik” (T.Raka Joni, 1985: 1). Dalam mengkaji derajat keaktifan dalam pembelajaran, McKeachie (1954, dari T.Raka Joni, 1985: 2) mengemukakan 7 (tujuh) dimensi yang dapat menjadikan variasi kadar keaktifan dalam pembelajaran itu , yakni:
1.      Partisipasi murid dalam menetapkan tujuan kegiatan pembelajaran,
2.      Penekanan pada aspek afektif dalam pembelajaran.
3.      Partisipasi murid dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran, terutama yang berbentuk interaksi antar murid.
4.      Penerimaan guru terhadap perbuatan/kontribusi murid yang kurang relevan, bahkan salah.
5.      Kekohesifan kelas sebagai kelompok,
6.      Kebebasan/kesempatan yang diberikan kepada murid untuk mengambil keputusan penting dalam kehidupan sekolah.
7.      Jumlah waktu yang dipergunakan untuk menanggulangi masalah pibadi murid

     Keaktifan siswa dalam peristiwa pembelajaran mengambil beraneka bentuk kegiatan, dari kegiatan fisik yang mudah diamati sampai kegiatan psikis yang sulit diamati. Kegiatan pisik yang dapat diamati daiantaranya dalam bentuk kegiatan membaca, mendengarkan, menulis, meragakan, dan mengukur. Sedangkan contoh-contoh kegiatan psikis seperti mengingat kembali isi pelajaran pertemuan sebelumnya, menggunakan kasana pengetahuan yang dimiliki dalam memecahkan masalah yang dihadapi, menyimpulkan hasil experimen, membandingkan satu konsep dengan konsep yang lain dan kegiatan psikis lainnya. Namun demikian, semua kegiatan tersebut harus dapat dipulangkan pada suatu karakteristik, yaitu keterlibatan intelektual-emosional siswa dalam kegiatan pembelajaran. Keterlibatan tersebut terjadi pada waktu kegiatan kognitif dalam pencapaian atau perolehan pengetahuan, pada saat siswa mengadakan latihan-latihan dalam pembentukan keterampilan, dan sewaktu siswa mengahayati dan menginternalisasi nilai-nilai dalam pembentukan sikap dan nilai. Dengan kata lain, keaktifan dalam penekatan CBSA menunjukkan kepadan keaktifan mental, baik intelektual maupun emosional, meskipun untuk merealisasikannya dalam banyak hal dipersyaratkan atau dibutuhkan keterlibatan langsung damlam bentuk keaktifan fisik.
    
     Perlu ditekankan kembali bahwa “ CBSA adalah suatu pendekatan, bukan suatu metode atau teknik mengajar”.(T. Raka Joni, 1993: 54). Pendekatan pembelajaran adalah cara umum dan atau asumsi dalam memandang dan atau menyikapi pembelajaran serta .permasalahannya, sehingga berdampak ibarat seseorang menggunakan kacamata dengan warna tertentu di dalam memandang alam sekitarnya yang seluruhnya akan seperti warna kacamata itu, seperti pendekatan sistem dalam pembelajaran, dll. Pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (Pendekatan CBSA) adalah suatu cara umum atau suatu gagasan konseptual tentang proses pembelajaran yang menurut T.Raka Joni (1993: 57):
     “.…… yang pada dasarnya (a) melihat kegiatan belajar sebagai pemberian makna secara konstruktivistik terhadap pengalaman oleh pebelajar, dan (b) dengan dituntun asas „tut wuri handayani‟ pengendalian kegiatan belajar harus meletakkan dasar bagi pembentukan prakarsa dan tanggung jawab belajar para pebelajar ke arah belajar sepanjang hayat”
     Pendekatan CBSA sangat mengutamakan derajat keaktifan pebelajar (SD: murid) yang tinggi, baik keaktifan fisik maupun yang utama keaktifan mental (utamanya intelektual dan atau emosional). Keterlibatan pebelajar dalam proses pembelajaran itu dapat berbentuk sebagai berikut:
1.     Keterlibatan fisik, seperti melakukan pengukuran/perhitungan, pengumpulan dan pengolahan data, dsbnya dan atau memperagakan suatu konsep/prinsip/dll. Umpamanya untuk menanamkan konsep perkalian dalam matematika, murid diminta untuk memperagakannya secara berkelompok:: konsep 3X4 diperagakan dengan mengambil sebanyak 3 kali dari setumpuk biji-bijian, dan setiap kali mengambil adalah 4 biji. Dengan keterlibatan fisik ini, secara berangsur konsep 3X4 akan terpahami, terlebih lagi kalau konsep 3X4 itu dibandingkan dengan konsep 4X3 yang 4 kali mengambil dan setiap pengambilan 3 biji. Keterlibatan fisik ini akan lebih sering nampak dalam pembentukan ketrampilan motorik (dalam ranah psikomotorik)
2.     Keterlibatan mental, meliputi:
a.       Keterlibatan intelektual yang dapat berbentuk mendengarkan informasi dengan cermat, berdiskusi dengan teman sekelas, melakukan pengamatan terhadap suatu fakta atau peristiwa, dsbnya sehingga memberi peluang terjadinya asimilasi dan atau akomodasi kognitif terhaap pengetahuan baru tersebut.
b.      Keterlibatan intelektual dalam bentuk latihan ketrampilan intelektual seperti menyusun suatu rencana/program, menyatakan gagasan, dsbnya
c.       Keterlibatan emosional dapat berbentuk penghayatan terhadap perasaan, nilai, sikap, dsbnya dalam ranah afektif.
     Keaktifan murid dalam berinteraksi dengan berbagai sumber belajar tersebut harus didukung oleh keaktifan dan kreativitas guru, serta dukungan oleh sumber daya pendidikan lainnya (pustakawan, laboran, teknisi ICT , dll.(T.Raka Joni, 1985: 1; Sulo Lipu La Sulo, dkk, 2002: 11). Dengan kata lain, meskipun dalam nama Pendekatan CBSA hanya „siswa‟ yang ditonjolkan, bukan berarti hanya siswa yang aktif, tetapi semua pihak yang terlibat dalam pembelajaran itu seharusnya semua aktif. Penonjolan „siswa‟ dalam nama itu karena yang paling berkepentingan dengan pembelajaran itu adalah siswa: sang muridlah yang terutama harus belajar, meskipun semua pihak lainnya dapat ikut belajar dalam pembelajaran itu.

     Berdasarkan dari uraian sebelumnya, dapat disimpulkan menegenai pengertian pendekatan CBSA. Diaman pendekatan CBSA dapat diartikan sebagai anutan pembelajaran yang mengarahkan kepada optimalisasi peliabatan intelektual-emosional siswa dalam proses pembelajaran, dengan perlibatan fisik siswa apabila diperlukan. Perliabatan intelektual-emosional / fisik siswa secara optimal dalam pembelajaran, diarahkan untuk membelajarkan siswa bagaimana belajar memperoleh dan memproses perolehan belajarnya tentang pengetahuan, keterampialan sikap dan nilai.

     Sejak dimunculkannya pendekatan CBSA dalam lingkungan pendidikan ditanah air, konsep CBSA telah mengalami perkembangan yang cukup jauh. Pendekatan CBSA dinilai sebagai suatu sistem belajar mengajar yang menekankan keaktifan siswa secara fisik, mental, intelektual dan emosional guna memperole hasil belajar yang bempa perpaduan antara matra kognitif, afektif, dan psikomotorik, (A. Yasin, 1984,h.24).

     Pentingnya pendekatan CBSA untuk dapat melatih para siswa-siswi lebih aktif dalam segala bidang, baik di kegiatan formal atau nonformal. Melalui pendekatan CBSA seorang anak juga dapat mengembangkan bakatnya masing-masing  untuk dapat bersaing di dunia kerja tentunya, melalui kegiatan-kegiatan yang dapat menunjang kektifan seorang siswa. Baik dengan cara membaca, bertanya kepada orang lain yang lebih mengetahui , menulis, serta hal positif lainnya.

Faktor-faktor yang harus dimiliki seorang siswa untuk belajar aktif

1.         Mendengar, dalam proses belajar yang sangat menonjol adalah mendengar dan melihat. Apa yang kita dengar dapat menimbulkan tanggapan dalam ingatan-ingatan, yang turut dalam membentuk jiwa sesorang.
2.         Melihat, peserta didik dapat mneyerap dan belajar 83% dari penglihatannya. Melihat berhubungan dengan penginderaan terhadap objek nyata, seperti peragaa atau demonstrasi. Untuk meningkatkan keaktifan peserta didik dalam belajar melalui proses mendengar dan melihat, sering digunakan alat bantu dengar dan pandang, atau yang sering di kenal dengan istilah alat peraga.
3.         Mencium, sebenarnya penginderaan dalam proses belajar bukan hanya mendengar dan melihat, tetapi meliputi penciuman. Seseorang dapat memahami perbedaan objek melalui bau yang dapat dicium.
4.         Merasa, yang dapat memberi kesan sebagai dasar terjadinya berbagai bentuk perubahan bentuk tingkah laku bisa juga dirasakan dari benda yang dikecap.
5.         Meraba, untuk melengkapi penginderaan, meraba dapat dilakukan untuk membedakan suatu benda dengan yang lainnya.
6.         Mengolah ide, dalam mengolah ide peserta didik melakukan proses berpikir atau proses kognisi. Dari keterangan yang disampaikan kepadanya, baik secara lisan maupun secara tulisan, serta dari proses penginderaan yang lain yang kemudian peserta didik mempersepsi dan menanggapinya. Berdasarkan tanggapannya, dimungkinkan terbentuk pengetahuan, pemahaman, kemampuan menerapkan prinsip atau konsep, kemampuan menganalisis, menarik kesimpulan dan menilai. Inilah bentuk-bentuk perubahan tingkah laku kognitif yang dapat dicapai dalam proses belajar mengajar.
7.         Menyatakan ide, tercapainya kemampuan melakukan proses berpikir yang kompleks ditunjang oleh kegiatan belajar melalui pernyataan atau mengekspresikan ide. Ekspresi ide ini dapat diwujudkan melalui kegiatan diskusi, melakukan eksperimen, atau melalui proses penemuan melalui kegiatan semacam itu, taraf kemmapuan kognitif yang dicapai lebih baik dan lebih tinggi dibandingkan dengan hanya sekedar melakukan penginderaan, apalagi penginderaan yang dilakukan hanya sekedar mendengar semata-mata.
Melakukan latihan: bentuk tingkah laku yang sepatutnya dapat dicapai melalui proses belajar, di samping tingkah laku kognitif, tingkah laku afektif (sikap) dan tingkah laku psikomotorik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar