A.
Pengertian Pendekatan CBSA
1. Latar
belakang
Penyelenggaraan
pembelajaran merupakan salah satu tugas utama guru, dimana pembelajaran dapat
diartikan sebagai kegiatan yang ditujukan untuk membelajarkan siswa. Untuk
dapat membelajarkan siswanya, salah satu cara yang dapat ditempuh oleh guru
ialah dengan menerapkan pendekatan CBSA dan Pendekatan Keterampilan Proses
(PKP) dalam proses pembelajaran. Baik CBSA maupum PKP, merupakan pendekatan
pembelajaran yang tersurat dan tersirat dalam kurikulum yang berlaku
Anda
sebagai seorang calon guru, tentunya berkepentingan untuk mengetahui apa dan
bagaimana Cara Belajar Siswa Aktif itu serta apa dan bagaimana pula PKP.
Sebagian calon tenaga profesional, anda tentu bertanya mengapa CBSA dan PKP.
2. Permasalahan
·
Apa itu pendekatan CBSA ?
·
Mengapa pendekatan CBSA itu penting ?
·
Faktor-faktor apa saja yang harus dimiliki seorang
siswa untuk belajar aktif ?
3. Isi
·
Pengertian Pendekatan CBSA
Pada umumnya
metode lebih cenderung disebut sebuah pendekatan. Dalam bahasa Inggris dikenal
dengan kata “approach” yang dimaksudnya juga “pendekatan”. Di dalam kata
pendekatan ada unsur psikhis seperti halnya yang ada pada proses belajar
mengajar. Semua guru profesional dituntut terampil mengajar tidak semata-mata
hanya menyajikan materi ajar. Guru dituntut memiliki pendekatan mengajar sesuai
dengan tujuan instruksional. Menguasai dan memahami materi yang akan diajarkan
agar dengan cara demikian pembelajar akan benar-benar memahami apa yang akan
diajarkan. Piaget dan Chomsky berbeda pendapat dalam hal hakikat manusia. Piaget
memandang anak-akalnya-sebagai agen yang aktif dan konstruktif yang secara
perlahan-lahan maju dalam kegiatan usaha sendiri yang terus-menerus.
Setiap
proses pembelajaran pasti menempatkan keaktifan orang yang belajar atau siswa.
Pernyataan ini tidak dapat kita bantah atau kita tolak kebenarannya. Adanya
kenyataan ini, menyebabkan sulitnya mendefinisikan pengertian pendekatan CBSA
secara tepat. Kepastian adanya keaktifan siswa dalam setian proses
pembelajaran, memberikan kepastian kepada kita bahwa pendekatan CBSA bukannlah
suatu yang dikotomis. Hal ini berarti, setiap peristiwa pembelajaran yang
diselenggarakan oleh guru dsapat dipastikan adanya penerapan pendekatan CBSA
dan tidak mungkin tidak terjadi penerapan pendekatan CBSA dalam pembelajaran.
Pendekatan CBSA (Cara
Belajar Siswa Aktif) menuntut keterlibatan mental siswa terhadap bahan yang
dipelajari. CBSA adalah pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan kepada
siswa untuk aktif terlibat secar fisik, mental, intelektual, dan emosional
dengan harapan siswa memperoleh pengalaman belajar secara maksimal, baik dalam
ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor. Pendekatan CBSA menuntut
keterlibatan mental vang tinggi sehingga terjadi proses-proses mental yang
berhubungan dengan aspek-aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Melalui
proses kognitif pembelajar akan memiliki penguasaan konsep dan prinsip. Konsep
CBSA yang dalam bahasa Inggris disebut Student Active Learning (SAL) dapat
membantu pengajar meningkatkan daya kognitif pembelajar. Kadar aktivitas
pembelajar masih rendah dan belum terpogram. Akan tetapi dengan CBSA para
pembelajar dapat melatih diri menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepada
mereka. Tidak untuk dikerjakan di rumah tetapi dikerjakan dikelas secara
bersama-sama.
Titik fokus kajian dalam Pendekatan CBSA adalah
keaktifan pebelajar dalam proses pembelajaran, namun bukan berarti bahwa pihak
lain yang terlibat dalam proses pembelajaran tersebut, utamanya guru, tidak
perlu aktif. Dengan demikian, Pendekatan CBSA menekankan keaktifan semua pihak
yang terlibat dalam proses pembelajaran tersebut, dengan pengertian “ …..
keaktifan dalam rangka CBSA menunjuk kepada keaktifan mental, meskipun untuk
mencapai maksud ini dalam banyak hal dipersyaratkan keterlibatan langsung dalam
pelbagai bentuk keaktifan fisik” (T.Raka Joni, 1985: 1). Dalam mengkaji derajat
keaktifan dalam pembelajaran, McKeachie (1954, dari T.Raka Joni, 1985: 2)
mengemukakan 7 (tujuh) dimensi yang dapat menjadikan variasi kadar keaktifan
dalam pembelajaran itu , yakni:
1.
Partisipasi
murid dalam menetapkan tujuan kegiatan pembelajaran,
2.
Penekanan pada
aspek afektif dalam pembelajaran.
3.
Partisipasi
murid dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran, terutama yang berbentuk
interaksi antar murid.
4.
Penerimaan guru
terhadap perbuatan/kontribusi murid yang kurang relevan, bahkan salah.
5.
Kekohesifan
kelas sebagai kelompok,
6.
Kebebasan/kesempatan
yang diberikan kepada murid untuk mengambil keputusan penting dalam kehidupan
sekolah.
7.
Jumlah waktu
yang dipergunakan untuk menanggulangi masalah pibadi murid
Keaktifan
siswa dalam peristiwa pembelajaran mengambil beraneka bentuk kegiatan, dari
kegiatan fisik yang mudah diamati sampai kegiatan psikis yang sulit diamati.
Kegiatan pisik yang dapat diamati daiantaranya dalam bentuk kegiatan membaca,
mendengarkan, menulis, meragakan, dan mengukur. Sedangkan contoh-contoh
kegiatan psikis seperti mengingat kembali isi pelajaran pertemuan sebelumnya,
menggunakan kasana pengetahuan yang dimiliki dalam memecahkan masalah yang
dihadapi, menyimpulkan hasil experimen, membandingkan satu konsep dengan konsep
yang lain dan kegiatan psikis lainnya. Namun demikian, semua kegiatan tersebut
harus dapat dipulangkan pada suatu karakteristik, yaitu keterlibatan
intelektual-emosional siswa dalam kegiatan pembelajaran. Keterlibatan tersebut
terjadi pada waktu kegiatan kognitif dalam pencapaian atau perolehan
pengetahuan, pada saat siswa mengadakan latihan-latihan dalam pembentukan
keterampilan, dan sewaktu siswa mengahayati dan menginternalisasi nilai-nilai
dalam pembentukan sikap dan nilai. Dengan kata lain, keaktifan dalam penekatan
CBSA menunjukkan kepadan keaktifan mental, baik intelektual maupun emosional,
meskipun untuk merealisasikannya dalam banyak hal dipersyaratkan atau
dibutuhkan keterlibatan langsung damlam bentuk keaktifan fisik.
Perlu ditekankan kembali bahwa “ CBSA adalah suatu
pendekatan, bukan suatu metode atau teknik mengajar”.(T. Raka Joni, 1993: 54).
Pendekatan pembelajaran adalah cara umum dan atau asumsi dalam memandang dan
atau menyikapi pembelajaran serta .permasalahannya, sehingga berdampak ibarat
seseorang menggunakan kacamata dengan warna tertentu di dalam memandang alam
sekitarnya yang seluruhnya akan seperti warna kacamata itu, seperti pendekatan
sistem dalam pembelajaran, dll. Pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (Pendekatan
CBSA) adalah suatu cara umum atau suatu gagasan konseptual tentang proses
pembelajaran yang menurut T.Raka Joni (1993: 57):
“.…… yang pada dasarnya (a) melihat
kegiatan belajar sebagai pemberian makna secara konstruktivistik terhadap
pengalaman oleh pebelajar, dan (b) dengan dituntun asas „tut wuri handayani‟
pengendalian kegiatan belajar harus meletakkan dasar bagi pembentukan prakarsa
dan tanggung jawab belajar para pebelajar ke arah belajar sepanjang hayat”
Pendekatan CBSA sangat mengutamakan derajat
keaktifan pebelajar (SD: murid) yang tinggi, baik keaktifan fisik maupun yang
utama keaktifan mental (utamanya intelektual dan atau emosional). Keterlibatan
pebelajar dalam proses pembelajaran itu dapat berbentuk sebagai berikut:
1.
Keterlibatan
fisik, seperti melakukan pengukuran/perhitungan, pengumpulan dan pengolahan
data, dsbnya dan atau memperagakan suatu konsep/prinsip/dll. Umpamanya untuk
menanamkan konsep perkalian dalam matematika, murid diminta untuk
memperagakannya secara berkelompok:: konsep 3X4 diperagakan dengan mengambil
sebanyak 3 kali dari setumpuk biji-bijian, dan setiap kali mengambil adalah 4
biji. Dengan keterlibatan fisik ini, secara berangsur konsep 3X4 akan
terpahami, terlebih lagi kalau konsep 3X4 itu dibandingkan dengan konsep 4X3
yang 4 kali mengambil dan setiap pengambilan 3 biji. Keterlibatan fisik ini
akan lebih sering nampak dalam pembentukan ketrampilan motorik (dalam ranah
psikomotorik)
2.
Keterlibatan
mental, meliputi:
a. Keterlibatan intelektual yang dapat berbentuk
mendengarkan informasi dengan cermat, berdiskusi dengan teman sekelas,
melakukan pengamatan terhadap suatu fakta atau peristiwa, dsbnya sehingga
memberi peluang terjadinya asimilasi dan atau akomodasi kognitif terhaap
pengetahuan baru tersebut.
b. Keterlibatan intelektual dalam bentuk latihan
ketrampilan intelektual seperti menyusun suatu rencana/program, menyatakan
gagasan, dsbnya
c. Keterlibatan emosional dapat berbentuk penghayatan
terhadap perasaan, nilai, sikap, dsbnya dalam ranah afektif.
Keaktifan murid dalam berinteraksi dengan
berbagai sumber belajar tersebut harus didukung oleh keaktifan dan kreativitas
guru, serta dukungan oleh sumber daya pendidikan lainnya (pustakawan, laboran,
teknisi ICT , dll.(T.Raka Joni, 1985: 1; Sulo Lipu La Sulo, dkk, 2002:
11). Dengan kata lain, meskipun dalam nama Pendekatan CBSA hanya „siswa‟ yang
ditonjolkan, bukan berarti hanya siswa yang aktif, tetapi semua pihak yang
terlibat dalam pembelajaran itu seharusnya semua aktif. Penonjolan „siswa‟
dalam nama itu karena yang paling berkepentingan dengan pembelajaran itu adalah
siswa: sang muridlah yang terutama harus belajar, meskipun semua pihak lainnya
dapat ikut belajar dalam pembelajaran itu.
Berdasarkan
dari uraian sebelumnya, dapat disimpulkan menegenai pengertian pendekatan CBSA.
Diaman pendekatan CBSA dapat diartikan sebagai anutan pembelajaran yang
mengarahkan kepada optimalisasi peliabatan intelektual-emosional siswa dalam
proses pembelajaran, dengan perlibatan fisik siswa apabila diperlukan.
Perliabatan intelektual-emosional / fisik siswa secara optimal dalam
pembelajaran, diarahkan untuk membelajarkan siswa bagaimana belajar memperoleh
dan memproses perolehan belajarnya tentang pengetahuan, keterampialan sikap dan
nilai.
Sejak dimunculkannya pendekatan CBSA dalam
lingkungan pendidikan ditanah air, konsep CBSA telah mengalami perkembangan
yang cukup jauh. Pendekatan CBSA dinilai sebagai suatu sistem belajar mengajar
yang menekankan keaktifan siswa secara fisik, mental, intelektual dan emosional
guna memperole hasil belajar yang bempa perpaduan antara matra kognitif,
afektif, dan psikomotorik, (A. Yasin, 1984,h.24).
Pentingnya
pendekatan CBSA untuk dapat melatih para siswa-siswi lebih aktif dalam segala
bidang, baik di kegiatan formal atau nonformal. Melalui pendekatan CBSA seorang
anak juga dapat mengembangkan bakatnya masing-masing untuk dapat bersaing di dunia kerja tentunya,
melalui kegiatan-kegiatan yang dapat menunjang kektifan seorang siswa. Baik
dengan cara membaca, bertanya kepada orang lain yang lebih mengetahui ,
menulis, serta hal positif lainnya.
Faktor-faktor yang harus dimiliki seorang siswa untuk
belajar aktif
1.
Mendengar, dalam proses belajar yang sangat menonjol
adalah mendengar dan melihat. Apa yang kita dengar dapat menimbulkan tanggapan
dalam ingatan-ingatan, yang turut dalam membentuk jiwa sesorang.
2.
Melihat, peserta didik dapat mneyerap dan belajar 83%
dari penglihatannya. Melihat berhubungan dengan penginderaan terhadap objek
nyata, seperti peragaa atau demonstrasi. Untuk meningkatkan keaktifan peserta
didik dalam belajar melalui proses mendengar dan melihat, sering digunakan alat
bantu dengar dan pandang, atau yang sering di kenal dengan istilah alat peraga.
3.
Mencium, sebenarnya penginderaan dalam proses belajar
bukan hanya mendengar dan melihat, tetapi meliputi penciuman. Seseorang dapat
memahami perbedaan objek melalui bau yang dapat dicium.
4.
Merasa, yang dapat memberi kesan sebagai dasar
terjadinya berbagai bentuk perubahan bentuk tingkah laku bisa juga dirasakan
dari benda yang dikecap.
5.
Meraba, untuk melengkapi penginderaan, meraba dapat
dilakukan untuk membedakan suatu benda dengan yang lainnya.
6.
Mengolah ide, dalam mengolah ide peserta didik
melakukan proses berpikir atau proses kognisi. Dari keterangan yang disampaikan
kepadanya, baik secara lisan maupun secara tulisan, serta dari proses
penginderaan yang lain yang kemudian peserta didik mempersepsi dan
menanggapinya. Berdasarkan tanggapannya, dimungkinkan terbentuk pengetahuan,
pemahaman, kemampuan menerapkan prinsip atau konsep, kemampuan menganalisis,
menarik kesimpulan dan menilai. Inilah bentuk-bentuk perubahan tingkah laku
kognitif yang dapat dicapai dalam proses belajar mengajar.
7.
Menyatakan ide, tercapainya kemampuan melakukan proses
berpikir yang kompleks ditunjang oleh kegiatan belajar melalui pernyataan atau
mengekspresikan ide. Ekspresi ide ini dapat diwujudkan melalui kegiatan
diskusi, melakukan eksperimen, atau melalui proses penemuan melalui kegiatan
semacam itu, taraf kemmapuan kognitif yang dicapai lebih baik dan lebih tinggi
dibandingkan dengan hanya sekedar melakukan penginderaan, apalagi penginderaan
yang dilakukan hanya sekedar mendengar semata-mata.
Melakukan latihan: bentuk tingkah laku yang
sepatutnya dapat dicapai melalui proses belajar, di samping tingkah laku
kognitif, tingkah laku afektif (sikap) dan tingkah laku psikomotorik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar